TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Washington mengerahkan kapal perang ke Laut Arab.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan eskalasi militer, meski sejumlah negara di kawasan mendorong jalur diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa waktu Iran untuk kembali bernegosiasi hampir habis.
Ia menegaskan Washington siap bertindak jika Teheran terus melanjutkan program nuklirnya.
Iran pun membalas dengan pernyataan keras, menyebut militernya siap merespons setiap serangan.
Ketegangan ini terjadi setelah serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada pertengahan 2025.
Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Qatar dan meluncurkan rudal ke wilayah Israel.
Tuntutan Amerika Serikat
AS menuntut Iran menghentikan seluruh aktivitas nuklirnya, termasuk pengayaan uranium, serta menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.
Baca juga: Rincian Terbaru Pengerahan Kapal Perusak AS dan Persiapan Iran: Washington Ajak Rapat Saudi-Israel
Washington juga menekan Iran agar membatasi program rudal balistik dan menghentikan dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan seperti Hizbullah dan milisi pro-Iran lainnya.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelumnya melaporkan Iran memiliki lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen.
Level ini mendekati kadar bahan untuk senjata nuklir.
Tuntutan Iran
Di sisi lain, Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi yang telah melumpuhkan perekonomiannya sejak 2018.
Teheran juga bersikeras mempertahankan program nuklir sipil dan kemampuan rudal sebagai alat pertahanan.
Iran menilai sanksi AS menyebabkan inflasi tinggi dan jatuhnya nilai mata uang, serta menekan kehidupan masyarakat.
Baca tanpa iklan