News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Palestina Vs Israel

Pakar Militer Israel: Strategi Geng Proksi Gagal, Hamas Masih Menguasai Gaza

Penulis: Hasiolan Eko P Gultom
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SAYAP MILITER HAMAS - Petempur Al Qassam, sayap militer Hamas saat penyerahan sandera Israel bulan lalu. Qassam menyatakan masih memiliki kekuatan untuk menghadapi agresi Israel.

 

TRIBUNNEWS.COM - Seorang pakar militer Israel mengakui bahwa upaya Israel untuk mengandalkan geng kriminal guna memaksakan kendali atas Jalur Gaza telah gagal.

Di sisi lain, gerakan pembebasan Palestina, Hamas terus mengkonsolidasikan kekuatan militernya dan mempertahankan dominasinya di seluruh wilayah tersebut.

Penilaian tersebut disampaikan Avi Issacharoff, seorang analis urusan militer dan mantan kepala subkomite Komite Luar Negeri dan Keamanan Knesset, dalam sebuah artikel terperinci yang diterbitkan oleh harian Israel, Yedioth Ahronoth.

Baca juga: Tiga Syarat AS ke Iran Kalau Teheran Tak Mau Dibombardir: Putus Dukungan Buat Hamas-Hizbullah-Houthi

Dalam tulisannya yang berjudul “Awal Fase Kedua: Kegagalan Berturut-turut,” Issacharoff berpendapat kalau pemerintah Israel gagal mengembangkan rencana strategis yang layak untuk Gaza setelah perang.

Kegagalan ini meninggalkan kekosongan administratif dan keamanan yang berbahaya.

Ia memperingatkan kalau kegagalan ini telah memungkinkan Hamas untuk tetap menjadi kekuatan pengendali di Jalur Gaza, sekaligus mereproduksi krisis yang sudah berlangsung lama dan meningkatkan risiko di masa depan.

Ide Fragmatis yang Tidak Praktis

Menurut Issacharoff, otoritas Israel sengaja mengabaikan alternatif realistis untuk mengatur Gaza setelah perang, dan memilih untuk mengandalkan ide-ide yang tidak praktis dan berumur pendek.

Satu di antara ide fragmatis itu adalah upaya untuk menggunakan geng kriminal—khususnya kelompok yang disebut "Abu Shabab"—sebagai kekuatan proksi Israel untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan dan membangun kendali lokal.

Upaya-upaya ini, catatnya, secara cepat mengalami kegagalan.

Issacharoff menekankan, pendekatan ini mencerminkan kurangnya pemikiran strategis dan memberikan tekanan tambahan pada tentara Israel dan badan-badan keamanan negara Yahudi tersebut. 

Alih-alih menstabilkan situasi, hal itu justru meninggalkan Gaza dalam kekosongan administratif dan keamanan setelah operasi militer skala besar mereda.

Ia lebih lanjut mencatat, alternatif yang layak—seperti melibatkan Otoritas Palestina dalam mengelola Gaza baik di tingkat administratif maupun keamanan—tidak pernah dipertimbangkan secara serius.

Pertimbangan politik, menurutnya, mencegah para pembuat keputusan Israel untuk mengejar pilihan tersebut, sehingga Hamas tetap menjadi kekuatan dominan di lapangan.

Issacharoff memperingatkan kalau terus mengabaikan kerangka kerja pasca-perang yang realistis hanya akan memperkuat Hamas dan membuat Israel menghadapi tantangan politik dan keamanan yang semakin besar.

ANGGOTA BRIGADE AL-QASSAM - Foto ini diambil pada Jumat (15/3/2025) dari publikasi resmi Brigade Al-Qassam (sayap militer Hamas) memperlihatkan anggota Brigade Al-Qassam berpatroli dengan kendaraan dan senjatanya selama pertukaran tahanan gelombang ke-6 pada Sabtu (15/2/2025) sebagai bagian dari implementasi perjanjian gencatan senjata Israel-Hamas di Jalur Gaza, yang membebaskan 3 sandera Israel (Sagui Dekel Chen, Sasha Troufanov, Yair Horn) dengan imbalan 369 tahanan Palestina. (Telegram Brigade Al-Qassam)

Hamas dan Gerakan Perlawanan Bangun Kembali Kekuatan Tempur

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini