TRIBUNNEWS.COM - Seorang pakar militer Israel mengakui bahwa upaya Israel untuk mengandalkan geng kriminal guna memaksakan kendali atas Jalur Gaza telah gagal.
Di sisi lain, gerakan pembebasan Palestina, Hamas terus mengkonsolidasikan kekuatan militernya dan mempertahankan dominasinya di seluruh wilayah tersebut.
Penilaian tersebut disampaikan Avi Issacharoff, seorang analis urusan militer dan mantan kepala subkomite Komite Luar Negeri dan Keamanan Knesset, dalam sebuah artikel terperinci yang diterbitkan oleh harian Israel, Yedioth Ahronoth.
Baca juga: Tiga Syarat AS ke Iran Kalau Teheran Tak Mau Dibombardir: Putus Dukungan Buat Hamas-Hizbullah-Houthi
Dalam tulisannya yang berjudul “Awal Fase Kedua: Kegagalan Berturut-turut,” Issacharoff berpendapat kalau pemerintah Israel gagal mengembangkan rencana strategis yang layak untuk Gaza setelah perang.
Kegagalan ini meninggalkan kekosongan administratif dan keamanan yang berbahaya.
Ia memperingatkan kalau kegagalan ini telah memungkinkan Hamas untuk tetap menjadi kekuatan pengendali di Jalur Gaza, sekaligus mereproduksi krisis yang sudah berlangsung lama dan meningkatkan risiko di masa depan.
Ide Fragmatis yang Tidak Praktis
Menurut Issacharoff, otoritas Israel sengaja mengabaikan alternatif realistis untuk mengatur Gaza setelah perang, dan memilih untuk mengandalkan ide-ide yang tidak praktis dan berumur pendek.
Satu di antara ide fragmatis itu adalah upaya untuk menggunakan geng kriminal—khususnya kelompok yang disebut "Abu Shabab"—sebagai kekuatan proksi Israel untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan dan membangun kendali lokal.
Upaya-upaya ini, catatnya, secara cepat mengalami kegagalan.
Issacharoff menekankan, pendekatan ini mencerminkan kurangnya pemikiran strategis dan memberikan tekanan tambahan pada tentara Israel dan badan-badan keamanan negara Yahudi tersebut.
Alih-alih menstabilkan situasi, hal itu justru meninggalkan Gaza dalam kekosongan administratif dan keamanan setelah operasi militer skala besar mereda.
Ia lebih lanjut mencatat, alternatif yang layak—seperti melibatkan Otoritas Palestina dalam mengelola Gaza baik di tingkat administratif maupun keamanan—tidak pernah dipertimbangkan secara serius.
Pertimbangan politik, menurutnya, mencegah para pembuat keputusan Israel untuk mengejar pilihan tersebut, sehingga Hamas tetap menjadi kekuatan dominan di lapangan.
Issacharoff memperingatkan kalau terus mengabaikan kerangka kerja pasca-perang yang realistis hanya akan memperkuat Hamas dan membuat Israel menghadapi tantangan politik dan keamanan yang semakin besar.
Baca tanpa iklan