News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Pidato Megawati di Riyadh: Negara Kuat Tak Boleh Pinggirkan Perempuan dari Sejarah

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

GELAR DOKTOR HONORIS CAUSA - Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Princess Nourah bint Abdulrahman University (PNU) di Riyadh, Arab Saudi, Senin (9/2/2026). Megawati ditemani putra-putrinya, yakni Ketua DPP PDIP M. Prananda Prabowo bersama istrinya Nancy Prananda, dan Ketua DPP PDIP Bidang Politik sekaligus Ketua DPR RI Puan Maharani.

 

TRIBUNNEWS.COM, RIYADH - Presiden ke-5 RI yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menegaskan posisi perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, saat berpidato usai menerima gelar doktor honoris causa dari Princess Naurah University (PNU), Riyadh, Arab Saudi, Senin (9/2/2026).

Ia menyatakan penghargaan ini mewakili peranan strategis perempuan bahwa kaum hawa punya tempat terhormat dalam membangun negara serta peradaban. 

“Penghargaan ini adalah pengakuan bahwa perempuan memiliki tempat yang terhormat dalam membangun negara dan peradaban," kata Megawati di balik podium.

Dalam pidato berjudul 'Pemberdayaan Perempuan dalam Pemerintahan' Megawati menegaskan isu perempuan bukanlah persoalan tambahan atau pelengkap dalam diskursus pemerintahan. 

Ia menyampaikan isu ini justru berada di jantung pemahaman negara tentang keadilan dan tanggung jawab kekuasaan.

Megawati memandang negara tidak bisa dilihat semata sebagai mesin birokrasi atau struktur administratif yang kering. Negara, menurutnya, adalah organisme peradaban yang hidup—dibentuk oleh nilai, sejarah, dan tanggung jawab moral terhadap seluruh warganya, termasuk perempuan.

“Negara tidak boleh dipahami semata sebagai struktur administratif. Negara adalah sebuah bagian dari peradaban yang hidup, yang bertumpu pada nilai, sejarah, dan tanggung jawab moral," kata dia.

Dalam konteks tersebut, keterlibatan perempuan di ruang-ruang pengambilan keputusan dinilainya menjadi sebuah keniscayaan. Megawati mengingatkan bahwa sejarah telah memberikan pelajaran berharga yaitu ketika perempuan disingkirkan dari pusat kekuasaan, peradaban justru kehilangan keseimbangannya.

“Sejarah telah menunjukkan bahwa peradaban yang menyingkirkan perempuan dari pusat pengambilan keputusan akan kehilangan keseimbangannya," jelas Megawati.

Baginya, negara yang besar dan kuat bukan hanya diukur dari kekuatan ekonomi atau militernya, tetapi kemampuan dalam merangkul seluruh potensi kemanusiaan. Perempuan, sebagai separuh dari kekuatan sosial, tidak boleh terus-menerus ditempatkan di pinggiran sejarah.

“Negara yang besar adalah negara yang mampu menghimpun seluruh potensi kemanusiaannya," tegasnya.

Baca juga: Momen Megawati Dipeluk Dicium Prananda–Puan Usai Terima Doktor HC dari Princess Nourah University

“Negara yang kuat adalah negara yang tidak membiarkan separuh dari kekuatan sosialnya berada di pinggir sejarah," lanjut Megawati.

Megawati menerima pengakuan internasional, dengan dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa oleh Princess Nourah bint Abdulrahman University (PNU) di Riyadh, Arab Saudi, Senin (9/2/2026) waktu setempat.

Gelar Doktor Honoris Causa ini menjadi gelar ke-11 yang diterima oleh Megawati sejak tahun 2001. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini