Sejarah Mudik Imlek di China
Tradisi mudik atau pulang ke kampung halaman yang dikenal dengan istilah hui jia memiliki akar sejarah yang sangat dalam di China.
Praktik ini terkait erat dengan perayaan Tahun Baru Imlek atau Festival Musim Semi yang telah dirayakan selama lebih dari 4.000 tahun.
Sejak periode Dinasti Han sekitar tahun 202 SM hingga 220 M, masyarakat Tiongkok telah memegang teguh kebiasaan berkumpul bersama keluarga untuk merayakan awal tahun baru imlek dengan puncak acara berupa makan malam reuni.
Tradisi ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan cerminan nilai Konfusianisme yang menekankan pentingnya harmoni keluarga dan penghormatan kepada leluhur, di mana pulang ke laojia atau rumah asal menjadi simbol pemulihan ikatan batin setelah masa perpisahan.
Meskipun akarnya sudah ada sejak zaman kuno, fenomena mudik massal modern yang dikenal sebagai Chunyun baru muncul secara signifikan setelah era reformasi ekonomi Tiongkok pada akhir 1970-an.
Pada masa ekonomi terencana sebelumnya, mobilitas penduduk cenderung rendah dan perjalanan jarak jauh sangat terbatas karena faktor pendapatan yang minim.
Istilah Chunyun sendiri sebenarnya sudah muncul di media lokal pada tahun 1954, namun baru menjadi fenomena raksasa pada medio 1979 hingga 1980-an ketika reformasi Deng Xiaoping membuka peluang kerja besar-besaran di kota-kota pesisir.
Baca juga: 50 Link Twibbon Imlek 2026 Shio Kuda Api, Dilengkapi Cara Buat dan Bagikan di Media Sosial
Hal ini memicu gelombang jutaan pekerja migran dari pedesaan ke wilayah perkotaan yang kemudian pulang ke kampung halaman setahun sekali, hingga akhirnya surat kabar People's Daily menggunakan istilah ini secara publik pada 1980 untuk menandai dimulainya era migrasi tahunan terbesar di dunia.
Memasuki dekade 1980-an, lonjakan permintaan perjalanan mulai memberikan tekanan hebat pada sistem transportasi, hingga lahir istilah "satu tiket sulit didapat" yang populer sekitar tahun 1986.
Seiring berjalannya waktu, Chunyun terus bertransformasi mengikuti kemajuan infrastruktur nasional China, mulai dari penggunaan kereta api konvensional, pembangunan jalan tol secara masif, hingga pengembangan jaringan kereta cepat yang kini panjang jalurnya telah melampaui 50.000 km.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan