News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Samurai Wanita Jepang: Dari Legenda hingga Pertempuran Terakhir di Era Boshin

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SAMURAI JEPANG - Samurai wanita (Onna Bugeisha) di atas kuda dengan panah menyasar ke musuh. Sejarah Jepang tidak hanya diwarnai oleh nama-nama samurai pria. Sejumlah catatan sejarah, kronik klasik, hingga temuan arkeologis menunjukkan bahwa perempuan Jepang juga terlibat langsung dalam perang dan pertempuran, baik sebagai pemimpin pasukan, penguasa wilayah, maupun prajurit di garis depan. Itulah samurai wanita yang biasa disebut Onna Bugeisha

 Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Sejarah Jepang tidak hanya diwarnai oleh nama-nama samurai pria.

Sejumlah catatan sejarah, kronik klasik, hingga temuan arkeologis menunjukkan bahwa perempuan Jepang juga terlibat langsung dalam perang dan pertempuran, baik sebagai pemimpin pasukan, penguasa wilayah, maupun prajurit di garis depan. Itulah samurai wanita yang biasa disebut Onna Bugeisha.

Tribunnews Tokyo melakukan penelitian bertahun-tahun dan fakta ini terangkum dalam linimasa partisipasi perempuan dalam peperangan di Jepang, yang membentang dari era mitologis hingga akhir zaman feodal saat perang Boshin.

Perang Boshin (1868-1869) adalah perang saudara di Jepang antara pasukan Keshogunan Tokugawa yang berkuasa dan aliansi samurai (terutama Satsuma, Choshu, Tosa) yang ingin mengembalikan kekuasaan politik ke tangan Kaisar Meiji. 

Konflik ini dipicu ketidakpuasan terhadap kebijakan lunak shogun terhadap orang asing. Kemenangan kekaisaran mengakhiri sistem feodal dan memulai era modernisasi. 

Baca juga: Jejak Kriminal Mbah Tarman: Penipuan Jual Beli Samurai, Kini Diduga Palsukan Cek Rp3 M Mahar Sheila

Dari mitologi ke sejarah awal

Dalam catatan Nihon Shoki, disebutkan bahwa pada masa penaklukan legendaris oleh Kaisar Jimmu, pasukan perempuan (onna-ikusa) digunakan sebagai taktik untuk mengecoh musuh.

Kisah-kisah serupa juga muncul pada masa Permaisuri Jingu, yang digambarkan memimpin ekspedisi militer dan menumpas pemberontakan.

Temuan arkeologis dari periode Yayoi memperkuat narasi tersebut. 

Di Pulau Hirado, ditemukan kerangka perempuan dengan bekas luka panah di kepala, yang oleh para ahli ditafsirkan sebagai pemimpin perempuan yang gugur dalam pertempuran.

Abad pertengahan: perempuan di garis depan

Memasuki era samurai, keterlibatan perempuan kian nyata. Tokoh seperti  Tomoe Gozen,  meski keberadaannya masih diperdebatkan—menjadi simbol perempuan pejuang dalam kisah Perang Genpei.

Perang Genpei (1180–1185) adalah perang saudara epik di Jepang antara klan Taira dan Minamoto pada akhir zaman Heian. Konflik ini berakhir dengan kemenangan klan Minamoto, menumbangkan dominasi Taira, dan menandai awal berdirinya Keshogunan Kamakura di bawah Minamoto no Yoritomo, yang mengalihkan kekuasaan ke tangan samurai. 

 Dalam catatan sejarah yang lebih solid, nama Hangaku Gozen muncul sebagai pemimpin pemberontakan pada awal zaman Kamakura, dipuji karena keahlian memanahnya yang luar biasa.

Pada masa invasi Mongol (abad ke-13), kronik lokal di Kyushu menyebut adanya pemimpin perempuan yang memimpin pasukan laut, menandakan bahwa peran militer perempuan tidak terbatas pada daratan.

Zaman Sengoku, perempuan sebagai penguasa dan komandan

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini