News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Samurai Wanita Jepang: Dari Legenda hingga Pertempuran Terakhir di Era Boshin

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SAMURAI JEPANG - Samurai wanita (Onna Bugeisha) di atas kuda dengan panah menyasar ke musuh. Sejarah Jepang tidak hanya diwarnai oleh nama-nama samurai pria. Sejumlah catatan sejarah, kronik klasik, hingga temuan arkeologis menunjukkan bahwa perempuan Jepang juga terlibat langsung dalam perang dan pertempuran, baik sebagai pemimpin pasukan, penguasa wilayah, maupun prajurit di garis depan. Itulah samurai wanita yang biasa disebut Onna Bugeisha

Era Sengoku–Azuchi Momoyama menjadi puncak keterlibatan perempuan dalam konflik bersenjata. Banyak istri atau ibu daimyo memimpin pertahanan kastel saat para pria bertempur di medan lain. 

Kisah tentang kepemimpinan pengepungan, pengaturan logistik, hingga penggunaan naginata oleh perempuan tercatat dalam berbagai sumber.

Nama-nama seperti Kaihime (甲斐姫) dalam pengepungan Kastel Oshi dan Myōrin-ni di Kyushu menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya bertahan, tetapi juga mengambil keputusan strategis. 

Meski sebagian kisahnya bercampur legenda, keberadaan mereka mencerminkan realitas sosial di masa perang berkepanjangan.

Baca juga: Tak Disangka, Bantu Teman Malah Jadi Korban Perampasan dengan Samurai di Jakarta Barat

Perang besar dan akhir era samurai

Pada Pertempuran Sekigahara (1600) dan Pengepungan Osaka, perempuan bangsawan seperti Yododono (淀殿) disebut turut mengatur pertahanan dan memotivasi pasukan. 

Namun, seiring stabilitas era Edo, peran tempur perempuan menurun drastis dan lebih banyak beralih ke ranah simbolik atau ritual.

Keterlibatan militer perempuan kembali mencuat di penghujung zaman feodal, saat Perang Boshin (1868–1869) meletus. 

Di Aizu (Fukushima), Nakano Takeko memimpin pasukan perempuan (Fujitai) dan gugur di medan perang. 

Tokoh wanita lain seperti Niijimae Jae (新島八重) bertempur dengan senapan, menandai bab terakhir perempuan bersenjata dalam konflik feodal Jepang.

Antara fakta, legenda, dan persepsi

Para sejarawan menekankan bahwa tidak semua kisah perempuan pejuang dapat diverifikasi sepenuhnya. 

Sebagian berasal dari kronik perang dan sastra yang ditulis kemudian (re-write). 

Namun, konsistensi catatan lintas zaman menunjukkan bahwa perempuan Jepang bukan sekadar figur pasif, melainkan aktor penting dalam situasi krisis.

Linimasa ini memperlihatkan bahwa keterlibatan perempuan dalam perang di Jepang bersifat kontekstual—menguat pada masa kekacauan dan meredup saat stabilitas tercapai. 

Di tengah perdebatan modern tentang peran gender dan sejarah, kisah-kisah ini kembali dibaca sebagai pengingat bahwa medan perang Jepang juga pernah menjadi arena keberanian para perempuan.

Diskusi  kepahlawanan di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini