TRIBUNNEWS.COM – Otoritas keamanan Prancis meningkatkan intensitas penyelidikan atas kematian Quentin Deranque, seorang aktivis sayap kanan yang tewas dalam sebuah insiden kekerasan di Kota Lyon.
Hingga hari ini, Kepolisian Prancis melaporkan telah menangkap sembilan orang yang diduga terlibat langsung maupun tidak langsung dalam aksi pengeroyokan fatal tersebut.
Langkah ini merupakan pengembangan signifikan dari penyidikan awal.
Melansir laporan France 24, pada awalnya polisi hanya menahan empat tersangka tak lama setelah tubuh Deranque ditemukan.
Berdasarkan rekaman CCTV dan keterangan saksi mata di lokasi kejadian, jaksa penuntut umum memperluas jangkauan pencarian hingga berhasil mengamankan lima orang tambahan.
Kronologi Lengkap Kejadian
- Kamis (12/2/2026) Sore Hari
Aksi protes digelar di dekat kampus Sciences Po Lyon menentang kehadiran politisi sayap kiri Rima Hassan.
Massa dari kelompok sayap kanan dan kiri berkumpul di kawasan Vieux Lyon yang padat.
Ketegangan meningkat ketika kedua kubu saling melontarkan provokasi verbal.
Aparat keamanan yang berjaga berupaya membubarkan kerumunan.
- Kamis (12/2/2026) Malam Hari
Menurut laporan The Guardian, bentrokan fisik pecah sekitar pukul 19.30 waktu setempat.
Quentin Deranque diduga terpisah dari kelompoknya dan diserang oleh sedikitnya enam orang bertopeng.
Para pelaku disebut menggunakan batang besi dan benda tumpul lainnya.
Rekaman CCTV memperlihatkan korban terjatuh setelah menerima pukulan berulang kali ke bagian kepala.
Warga sekitar yang menyaksikan kejadian segera menghubungi layanan darurat.
- Kamis (12/2/2026) Malam (Setelah Kejadian)
Deranque dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi tidak sadar dan mengalami pendarahan otak serius.
Polisi langsung mengamankan lokasi dan memulai penyelidikan awal. - Jumat (13/2/2026)
Polisi memeriksa rekaman CCTV tambahan dan mengumpulkan kesaksian saksi mata.
Empat orang pertama diamankan untuk dimintai keterangan. - Sabtu (14/2/2026)
Setelah dua hari dalam kondisi kritis, Quentin Deranque dinyatakan meninggal dunia akibat cedera otak traumatis dan luka parah di kepala.
Kematian ini langsung memicu gelombang reaksi dari kelompok sayap kanan yang menyebutnya sebagai “martir politik.” - Senin (16/2/2026)
Jaksa Lyon, Thierry Dran, secara resmi membuka penyelidikan atas dugaan pembunuhan berencana.
Pemerintah mulai menyoroti kemungkinan motif ideologis di balik serangan tersebut. - Selasa (17/2/2026)
Operasi lanjutan dilakukan berdasarkan identifikasi wajah dari rekaman CCTV dan pelacakan komunikasi digital.
Lima orang tambahan ditangkap, sehingga total tersangka menjadi sembilan.
Salah satu tersangka dilaporkan merupakan asisten anggota parlemen sayap kiri. - Rabu (18/2/2026)
Kesembilan tersangka menjalani pemeriksaan intensif di markas kepolisian Lyon.
Penyidik juga menelusuri kemungkinan keterkaitan mereka dengan kelompok antifasis “Jeune Garde” yang sebelumnya telah dibubarkan pemerintah.
Baca juga: Aktivis HAM Datangi Kejagung, Desak Terapkan Yurisdiksi Universal untuk Genosida Palestina
Reaksi Pemerintah dan Ketegangan Nasional
Menteri Dalam Negeri Prancis melalui pernyataan resminya mendesak masyarakat untuk tetap tenang dan membiarkan proses hukum berjalan.
Mengutip Al Jazeera, pemerintah sangat mewaspadai adanya serangan balasan yang bisa memicu kerusuhan lebih besar.
“Kekerasan politik tidak memiliki tempat di Republik ini,” tegas otoritas setempat dalam upaya meredam emosi publik yang kian memuncak.
Pihak keluarga korban melalui kuasa hukumnya meminta agar kasus ini tidak dipolitisasi.
Namun di sisi lain, tokoh-tokoh politik sayap kanan di Prancis telah menggunakan insiden ini untuk mengkritik kebijakan keamanan pemerintah yang dianggap lemah terhadap kelompok radikal kiri.
Sebaliknya, beberapa aktivis lokal di Lyon menyebutkan bahwa ketegangan di kota tersebut memang sudah berada di titik didih akibat provokasi yang sering terjadi antar-kedua kubu.
Langkah Hukum Selanjutnya
Saat ini, kesembilan tersangka tengah menjalani pemeriksaan intensif di markas kepolisian Lyon.
Menurut laporan Euronews, jaksa penuntut sedang mengkaji pasal pembunuhan berencana (premeditated murder) untuk beberapa tersangka utama.
Proses otopsi juga telah dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematian, yang diharapkan dapat menjadi bukti kunci di persidangan nanti.
Kasus Quentin Deranque ini menjadi pengingat pahit bagi publik Prancis tentang betapa dalamnya polarisasi politik yang terjadi di akar rumput.
Kini, mata dunia tertuju pada Lyon, menantikan apakah proses hukum ini mampu memberikan keadilan sekaligus menjadi titik balik untuk meredakan ketegangan politik di negara tersebut.
Baca juga: Jimmy Lai Dijatuhi 20 Tahun Penjara, Nasib Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Memprihatinkan
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan