News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

5 Populer Internasional: Iran Borong Rudal Supersonik CM-302 China - Viral Monyet Punch dari Jepang

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Nanda Lusiana Saputri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pengerahan dua kapal induk secara bersamaan mengirimkan pesan pencegahan yang jelas dan memperkuat daya tawar di meja perundingan.

BACA SELENGKAPNYA >>>

4. Eropa Memasuki Era Ratu: Putri Mahkota dari Kerajaan Belgia, Belanda, dan Spanyol Siap Naik Takhta

ERA PARA RATU - Dari kiri ke kanan: Putri Elisabeth dari Belgia, Putri Catharina-Amalia dari Belanda, dan Putri Leonor dari Spanyol. Ketiganya dipersiapkan menjadi ratu masa depan. (monarchie.be; royal-house.nl; fpa.es) (Kolase Tribunnews)

 Eropa memasuki apa yang disebut sebagai “Era of Queens” atau “Era Ratu”, seiring generasi baru pewaris perempuan bersiap naik takhta.

Mengutip Pubity, pergeseran ini terjadi karena diadopsinya sistem primogenitur absolut, yang memungkinkan anak tertua mewarisi takhta tanpa memandang jenis kelamin.

Para calon ratu tersebut antara lain Putri Elisabeth dari Belgia, Putri Catharina-Amalia dari Belanda, dan Putri Leonor dari Spanyol.

Berikut profil masing-masing calon ratu tersebut:

1. Putri Elisabeth dari Belgia, Duchess of Brabant

Mengutip monarchie.be, Putri Elisabeth sekaligus Duchess of Brabant, lahir di Anderlecht pada 25 Oktober 2001.

Ia merupakan anak pertama Raja Philippe dan Ratu Mathilde.

Sebagai anak sulung, Putri Elisabeth berada di urutan pertama dalam garis suksesi takhta.

Sejak 21 Juli 2013, Elisabeth menyandang gelar Duchess of Brabant, gelar yang diperuntukkan bagi pewaris takhta.

Saat ini, Putri Elisabeth tengah menempuh studi Magister Kebijakan Publik di Universitas Harvard (Harvard Kennedy School), Cambridge, Amerika Serikat.

Pada Juli 2024, ia memperoleh gelar sarjana Sejarah dan Politik di Lincoln College, salah satu perguruan tinggi Universitas Oxford di Inggris.

BACA SELENGKAPNYA >>>

5. Belajar dari Kisah Punch, Monyet Viral dari Jepang: Mengapa Seekor Induk Menelantarkan Anaknya?

VIRAL DI JEPANG - Potret Punch dan monyet lain yang dibagikan kebun binatang Ichikawa pada 23 Februari 2026. (X @ichikawa_zoo) (Tangkapan layar media sosial)

Seekor anak monyet di Jepang menarik perhatian dunia setelah video yang memperlihatkan dirinya ditolak oleh induknya dan diganggu oleh monyet lain viral di media sosial.

Punch, seekor monyet makaka Jepang, lahir pada Juli 2025 lalu di Kebun Binatang Ichikawa, Chiba.

Video-videonya memperlihatkan ia bersama boneka orangutan setelah ditinggalkan oleh induknya.

Tanpa bimbingan induk untuk membantunya berintegrasi, Punch beralih pada mainan tersebut untuk mencari kenyamanan.

Ia beberapa kali terlihat diseret dan dikejar oleh monyet makaka Jepang lainnya di dalam kandang.

Video-video menunjukkan Punch berkeliaran sendirian dengan boneka itu setelah didorong monyet lain, lalu menggenggamnya erat saat diganggu.

Para penonton sempat merasa lega ketika video selanjutnya memperlihatkan ada monyet lain yang merawat dan menghibur Punch.

Namun, hanya beberapa hari kemudian, video baru menunjukkan Punch kembali menjadi sasaran.

Kali ini, ia diseret dan diputar-putar oleh seekor monyet yang jauh lebih besar sebelum akhirnya berlari bersembunyi di balik batu sambil memeluk mainannya.

Video-video tersebut memunculkan pertanyaan tentang mengapa monyet meninggalkan anak mereka.

Dilansir The Guardian, Alison Behie, ahli primatologi di Universitas Nasional Australia, mengatakan bahwa penelantaran seperti itu tidak biasa, tetapi dapat terjadi dalam kondisi tertentu.

Ia menyebut usia, kesehatan, dan kurangnya pengalaman sebagai faktor yang memungkinkan.

Behie mengatakan, “Dalam kasus Punch, induknya adalah induk yang baru pertama kali melahirkan, yang menunjukkan kurangnya pengalaman.”

“Para penjaga kebun binatang juga menduga Punch lahir saat terjadi gelombang panas, yang merupakan lingkungan dengan tingkat stres tinggi.”

“Dalam lingkungan di mana kelangsungan hidup terancam oleh stres dari luar, induk mungkin memprioritaskan kesehatan dan reproduksi masa depannya sendiri daripada terus merawat bayi yang kesehatannya mungkin terganggu oleh kondisi lingkungan tersebut.”

BACA SELENGKAPNYA >>>

(Tribunnews.com)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini