News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Tahu Jadi Target Pembunuhan, Cara Khamenei Siapkan Kematiannya Agar Rezim Tetap Eksis

Editor: Willem Jonata
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RATA TANAH - Foto lokasi Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei berada di Teheran, Iran saat dibom jet Israel, Sabtu (28/2/2026). Tampak lokasi yang tadinya terdiri dari beberapa rata tanah setelah serangan hari Sabtu.

 

TRIBUNNEWS.COM - Dunia menahan napas setelah serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2026), dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Alih-alih jatuh menyerah atau terjerembap ke dalam kekacauan dan perebutan kekuasaan yang dramatis, Teheran justru menunjukkan ketenangan institusional mengejutkan.

Kematian pria berusia 86 tahun tersebut, yang juga merenggut nyawa anak, menantu, dan cucunya, ternyata telah diantisipasi melalui sebuah arsitektur kepemimpinan masa perang yang sangat kompleks. 

Khamenei, sebagaimana dilaporkan The New York Times, telah jauh-jauh hari memerintahkan pembangunan sistem kepemimpinan berlapis untuk mencegah keruntuhan rezim atau pemerintahan yang berkuasa, jika terjadi serangan penghancuran kepala negara atau decapitation strikes.

Strategi Iran tidak hanya tentang pembalasan militer, tapi tentang keberlangsungan organisasi.

Belajar dari eliminasi komandan militer oleh Israel pada Juni 2025 yang sempat memicu kekacauan, Khamenei menetapkan doktrin "redundansi".

Baca juga: 8 Warga Yahudi Israel Tewas Kena Rudal Iran yang Hantam Shelter Bom di Barat Yerusalem

Setiap pejabat tinggi militer dan negara memiliki empat calon pengganti yang ditunjuk langsung. Bahkan untuk posisinya sendiri, sang Rahbar dikabarkan telah menyiapkan tiga nama rahasia.

Langkah ini memastikan bahwa saat rudal menghantam kediamannya, sistem pemerintahan tetap stabil, operasional, dan layak fungsi.

DIBOM AS-ISRAEL - Kolase foto para pemimpin Iran yang tewas dalam serangan pengeboman Amerika dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Iran membalas dengan menargetkan Israel dan beberapa negara Arab, sementara Garda Revolusi bersumpah akan memberikan "hukuman berat" bagi mereka yang bertanggung jawab. Iran juga mengumumkan kematian komandan Garda Revolusi Mohammad Pakpour dan penasihat Pemimpin Tertinggi Ali Shamkhani. (Tribunnews.com/Tangkap Layar/Khaberni)

Dalam struktur darurat ini, satu nama muncul sebagai pemegang kendali utama, yakni Ali Larijani.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) ini dilaporkan telah mengonsolidasikan kekuasaan sejak Januari 2025, saat ketegangan dengan AS meningkat dan protes domestik meletus.

Larijani bukanlah orang baru. Veteran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berusia 67 tahun ini berasal dari keluarga elite politik-agama dan menyandang gelar PhD dalam Filsafat Barat.

Pengalamannya memimpin lembaga penyiaran negara (IRIB) selama 10 tahun dan menjadi Ketua Parlemen (2008-2020) membuatnya memahami seluk-beluk sistem Teheran secara mendalam.

"Larijani adalah orang dalam sejati, operator cerdik yang memahami cara kerja sistem dan kecenderungan pemimpin tertinggi," ujar Ali Vaez dari International Crisis Group.

Sejak awal 2025, otoritas Larijani bahkan disebut melampaui Presiden Mahmoud Pezeshkian, terutama dalam koordinasi militer dan negosiasi rahasia dengan pihak asing seperti Rusia dan Oman.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini