Ringkasan Berita:
- Iran sejauh ini menunjukkan sikap yang berbeda dalam perang ini, disebut masih memiliki moral dalam berperang.
- Hal ini dikatakan oleh jurnalis senior Indonesia seklaigus Pengamat Politik Timur Tengah Nasir Tamara.
- Dirinya juga membandingkan moral Iran dengan Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu
TRIBUNNEWS.COM - Wartawan senior sekaligus pengamat politik Timur Tengah, Nasir Tamara menegaskan bahwa Iran masih menunjukkan moralitas dalam perangnya melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Diketahui Nasir Tamara juga merupakan tamatan Universitas kenamaan Prancis, Sorbone, satu-satunya jurnalis Indonesia yang pernah ikut pesawat yang membawa Ayatollah Khomeini dari Prancis ke Iran pada tahun 1979.
Diberitakan sebelumnya, konflik AS-Israel versus Iran pecah usai serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu.
Tak tinggal diam, Iran melancarkan serangan balasan, yakni dengan membombardir pangkalan militer AS dan fasilitas lainnya di negara-negara sekutu, antara lain Qatar.
Menurut Nasir Tamara, serangan-serangan Iran yang terjadi sejauh ini terfokus pada pangkalan militer AS dan fasilitas yang berkaitan langsung dengan upaya militer AS atau Israel.
Dan bukan serangan terhadap negara-negara Arab yang mayoritas penduduknya Muslim Sunni di sekitar Teluk seperti Yordania, Uni Emirat Arab, dan negara-negara lain di kawasan tersebut.
“Iran masih mempunyai moralitas di dalam perang ini, yang mereka hancurkan adalah pangkalan-pangkalan angkatan perang AS yang ada delapan negara Arab yang semuanya Sunni, yang di sekitar Teluk Persia dari Jordania sampai dengan Uni Arab Emirates semua itu yang diserang,” ujar Nasir Tamara kepada Tribunnews dalam diskusi Overview Tribunnews, Selasa (3/3/2026).
Baca juga: Pengamat Politik Timur Tengah: Iran Punya Strategi Perang Hebat dan Senjata Rahasia, Siap Melawan
“Yang diserang itu bukan negara-negara itu, bukan, namun pangkalan udaranya AS. Jadi Iran mencoba memisahkan bahwa Iran tidak bermusuh terhadap delapan negara itu, tetapi bermusuh terhadap AS dan Israel,” lanjutnya.
Hal ini, menurutnya, menandaskan bahwa Iran berusaha memisahkan bahwa pertikaian yang terjadi adalah antara Iran dengan AS dan Israel, bukan terhadap negara Arab lainnya.
Ia menyebutkan bahwa ini menunjukkan Iran masih berusaha menjaga agar peradaban tidak hancur karena perang ini.
Nasir juga membandingkan sikap Iran dengan pemimpin negara lain yang terlibat dalam konflik.
Ia menilai Donald Trump dan Benjamin Netanyahu memiliki pendekatan yang berbeda, bahkan lebih agresif, dalam konteks kebijakan luar negeri dan penggunaan kekuatan militer.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa menurut Nasir, Iran sejauh ini mencoba menjaga batasan tertentu meskipun berada dalam tekanan perang yang sangat intens.
“Itu bedanya Iran dengan Netanyahu, dan dengan Donald Trump,” imbuhnya.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)
Baca tanpa iklan