TRIBUNNEWS.COM - Laporan intelijen Amerika Serikat (AS) mengungkap bahwa Iran berhasil memulihkan sebagian besar kekuatan militernya hanya dalam waktu singkat setelah serangan gabungan AS dan Israel.
Dalam keterangan resminya empat pejabat Amerika Serikat yang mengetahui laporan intelijen tersebut mengatakan bahwa Iran telah membangun kembali 80 persen kapasitas militernya selama masa gencatan senjata enam minggu yang berlangsung bersama AS.
Selama periode itu, Iran juga kembali memproduksi drone tempur, memperbaiki lokasi peluncuran rudal, hingga menghidupkan kembali fasilitas produksi persenjataan yang sebelumnya menjadi target serangan.
Seorang pejabat AS bahkan menyebut Iran berhasil melampaui seluruh target waktu yang sebelumnya diperkirakan komunitas intelijen internasional.
“Iran telah melampaui semua tenggat waktu yang ditetapkan untuk proses rekonstitusi militer mereka,” ujar salah satu pejabat tersebut, dikutip dari CNN International.
Pernyataan intelijen AS tersebut diperkuat oleh pengakuan pejabat tinggi Iran sendiri.
Ketua parlemen Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, mengatakan pemerintah Iran memang memanfaatkan masa jeda konflik untuk membangun kembali kekuatan pertahanan nasional.
Menurutnya, Iran tetap berfokus memperkuat kemampuan militer di tengah tekanan internasional dan ancaman dari Amerika Serikat maupun Israel.
Kemampuan Drone dan Rudal Iran Masih Besar
Bahkan beberapa perkiraan intelijen Amerika Serikat menyebut kemampuan rudal Iran masih bertahan dengan baik meski sempat menjadi target operasi militer AS-Israel.
Sumber NATO di Eropa mengatakan setidaknya 60 persen persenjataan rudal Iran diyakini masih aktif dan dapat digunakan.
Hal itu terlihat dari kemampuan Iran yang dinilai masih mampu melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah wilayah di kawasan Teluk.
Baca juga: Donald Trump Absen dalam Pernikahan Putranya, Isu Iran Disebut Jadi Alasan Utama
“Bagaimana lagi menjelaskan jika mereka masih dapat menyerang negara-negara Teluk menggunakan rudal dan drone?” ujar seorang sumber senior NATO.
Menariknya Iran turut disebut berhasil memulihkan akses operasional ke 30 dari 33 lokasi rudalnya di sepanjang Selat Hormuz.
Kawasan tersebut menjadi perhatian dunia karena merupakan jalur utama perdagangan minyak global.
Jika konflik kembali memanas di wilayah itu, distribusi energi dunia berpotensi terganggu dan memicu lonjakan harga minyak internasional.
Baca tanpa iklan