TRIBUNNEWS.COM - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Free Palestine Network (FPN) Furqan AMC memprediksi, konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran akan menjadi pertempuran panjang.
Menurutnya, konflik yang kembali memanas setelah serangan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) lalu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei itu justru akan menjadi bumerang bagi AS.
Hal ini disampaikan Furqan AMC dalam program diskusi Overview yang tayang di kanal YouTube Tribunnews.com, Selasa (3/3/2026).
Mulanya, Furqan menyebut, Iran saat ini baru menggunakan stok persenjataan lama dalam melakukan serangan balasannya.
Ia juga menilai, Iran sudah sangat mempersiapkan diri dalam menghadapi serangan AS-Israel sejak lama.
Oleh karenanya, tutur Furqan, besar kemungkinan pertempuran Iran vs AS-Israel ini akan berlangsung lama.
"Iran baru menggunakan senjata-senjata yang bukan yang terbaru, menghabiskan stok yang lama, itu satu," kata Furqan.
"Terus yang kedua, Iran juga punya stok ribuan, baik rudal apalagi drone. Satu drone saja bisa menghancurkan satu kilang minyak, satu industri minyak yang ada di kawasan."
"Jadi, saya kira ini akan menjadi pertempuran panjang, tidak akan selesai dalam hitungan hari karena Iran memang sudah menyiapkan itu dari jauh-jauh hari."
Amerika Tidak Siap, Masih Ada Trauma dengan Perang Panjang
Lalu, Furqan AMC mengatakan, Amerika Serikat tidak siap dengan perang berkepanjangan yang bisa jadi akan terus didorong oleh Iran pasca-serangan pada Sabtu, 28 Februari 2026 itu.
Baca juga: FPN: Serangan AS-Israel adalah Konflik Historis, Iran Pertaruhkan Segalanya demi Membela Palestina
Kata dia, ada beberapa kondisi yang membuat Amerika tidak siap.
Pertama, Amerika masih trauma dengan perang panjang, seperti yang dihadapi di Irak (yang berlangsung selama delapan tahun, 20 Maret 2003 – 15 Desember 2011) dan di Afghanistan (berlangsung hampir 20 tahun, 2001-2021, dimulai setelah Serangan 11 September 2001 atau 9/11).
Kedua, kondisi ekonomi Amerika tidak bagus, serta banyaknya kritik terhadap serangan ke Iran di internal pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
"Sementara Amerika tentu tidak dalam posisi siap lagi untuk perang panjang karena trauma dengan perang yang ada di Irak dan juga di wilayah lain seperti Afghanistan," papar Furqan.
Baca tanpa iklan