TRIBUNNEWS.COM - Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, meminta Presiden Prabowo Subianto mengutuk serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, keluar dari Board of Peace (BoP), dan jangan menjadi mediator.
Menurut Faisal, keinginan Prabowo untuk menjadi mediator dalam konflik tersebut akan sia-sia, karena Iran tidak akan balas dendam atas kematian pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei.
"Yang harus dilakukan Presiden Prabowo sebenarnya bukan keinginan untuk menjadi mediator, karena kalau pun jadi mediator, siapa yang mau dipaksa untuk berhenti perang?" kata Faisal Assegaf, dikutip dari tayangan YouTube Abraham Samad, Kamis (5/3/2026).
"Kalau Iran nggak mungkin (menghentikan perang). Karena dia pasti akan membalas dulu kematian pemimpin tertingginya dan panglima angkatan bersenjata, komandan garda revolusi, terus Menteri Pertahanan," imbuhnya.
Hal pertama yang harus dilakukan Prabowo, kata Faisal Assegaf, yaitu mengutuk serangan AS dan Israel terhadap Iran.
"Amerika dan Israel sudah kesekian kalinya melanggar hukum internasional dan Donald Trump memang sudah menyatakan sebelum dia membentuk Dewan Perdamaian (Board of Peace), dia menyatakan bahwa dia tidak lagi mengakui hukum internasional, tidak butuh lagi hukum internasional," jelasnya.
"Kan aneh kita masuk di dalam lembaga yang dibikin dan dipimpin oleh orang yang tidak lagi menghormati hukum internasional yang anggotanya salah satu sekutu Amerika adalah penjahat perang," tutur Faisal.
Baca juga: Kapal Iran Bermuatan Peledak Tabrak Kapal Tanker Minyak di Pelabuhan Irak
Faisal menilai Prabowo aneh jika masih tetap bertahan di Board of Peace yang dipimpin oleh Donald Trump itu.
Ia juga menyoroti Prabowo belum mengucapkan belasungkawa atas kematian Ali Khamenei.
"Kita sudah lama bersahabat dengan iran. Kalau hubungan kedua negara dalam level kedutaan besar itu artinya menganggap negara tersebut penting," ujarnya.
"Kita punya kedutaan di Iran, artinya kita menganggap level hubungan tertinggi dalam diplomatik kedutan besar."
"Sampai sekarang Presiden Prabowo belum mengucapkan bela sungkawa atas kematian pemimpin negara sahabatnya, Iran," tegasnya.
Faisal menjelaskan bahwa momen AS dan Israel menyerang Iran ini bisa menjadi alasan tegas Indonesia melalui Prabowo untuk keluar dari Board of Peace.
Nama Board of Peace, menurut Faisal Assegaf, tidak mencerminkan perdamaian karena pemimpinnya lebih menyukai peperangan.
"Yang ketiga, momen serangan ini harus dijadikan alasan yang kuat untuk kita keluar dari dewan perdamaian," katanya.
Baca tanpa iklan