Ringkasan Berita:
- Survei pemerintah Prefektur Saitama menunjukkan sekitar 60 persen warga asing ingin menetap permanen di wilayah tersebut.
- Lebih dari 90 persen responden juga mengaku puas dengan kehidupan mereka, terutama karena faktor keamanan dan lingkungan yang nyaman.
- Meski demikian, survei masih menemukan sejumlah tantangan, seperti keterbatasan layanan informasi multibahasa, kebutuhan dukungan pembelajaran bahasa Jepang, serta adanya pengalaman diskriminasi terhadap warga asing.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, JEPANG – Sekitar 60 persen warga asing yang tinggal di Prefektur Saitama menyatakan ingin menetap dalam jangka panjang. Hal itu terungkap dalam survei kesadaran yang dilakukan pemerintah prefektur tersebut dan dirilis, Jumat (6/3/2026).
Hasil survei menunjukkan 59,9 persen responden menyatakan ingin tinggal selamanya di Saitama.
Jika digabung dengan mereka yang ingin tinggal 2–5 tahun atau 6–10 tahun, sekitar 84 persen responden menyatakan ingin terus menetap di prefektur tersebut.
Dari total responden, 61 orang di antaranya merupakan Warga Negara Indonesia.
Baca juga: Mengapa Prefektur Miyazaki Menjadi Produsen Wagyu Terbesar di Jepang?
Tingkat kepuasan hidup tinggi
Survei yang dilakukan Divisi Urusan Internasional Pemerintah Prefektur Saitama juga menunjukkan tingkat kepuasan hidup warga asing cukup tinggi.
Lebih dari 90 persen responden menyatakan puas atau cukup puas dengan kehidupan mereka di Saitama.
Alasan utama kepuasan tersebut antara lain tingkat keamanan yang baik dan lingkungan yang nyaman untuk ditinggali (69,5 persen), serta kemudahan memahami budaya dan kebiasaan masyarakat Jepang (52,5 persen).
Survei ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kehidupan warga asing sekaligus mengidentifikasi kebutuhan mereka terhadap layanan pemerintah daerah.
Masih ada sejumlah tantangan
Meski tingkat kepuasan tinggi, survei juga mencatat beberapa tantangan yang masih dirasakan warga asing.
Sebagian responden menilai layanan informasi multibahasa masih terbatas, dukungan pembelajaran bahasa Jepang perlu ditingkatkan, serta masih terdapat diskriminasi terhadap warga asing.
Dalam kategori alasan ketidakpuasan, 39,3 persen responden menyebut diskriminasi terhadap orang asing sebagai masalah utama.
Saat ditanya mengenai layanan yang diharapkan dari pemerintah prefektur, responden paling banyak menginginkan penyediaan informasi dan layanan konsultasi dalam berbagai bahasa (34,1 persen).
Selanjutnya adalah dukungan pembelajaran bahasa Jepang (31,4 persen), peningkatan layanan kesejahteraan sosial (31,2 persen), serta upaya mengurangi diskriminasi terhadap warga asing (30,9 persen).
Dalam jawaban terbuka, sebagian responden juga meminta pemerintah menegakkan aturan secara lebih tegas terhadap warga asing yang tidak mematuhi hukum di Jepang.
Responden dari berbagai negara
Survei dilakukan pada November hingga Desember 2025 dengan mengirimkan kuesioner kepada 4.000 warga asing yang dipilih secara acak dari data penduduk, baik melalui pos maupun internet. Sebanyak 1.064 jawaban valid diterima.
Berdasarkan kewarganegaraan, responden terbanyak berasal dari China (333 orang), diikuti Vietnam (203 orang), Filipina (139 orang), dan Indonesia (61 orang).
Sementara berdasarkan status tinggal, responden didominasi pemegang izin tinggal permanen (permanent resident) sebanyak 335 orang. Selain itu terdapat pemegang visa kerja kategori Engineer/Specialist in Humanities/International Services sebanyak 167 orang, visa Tokutei Ginou atau Specified Skilled Worker sebanyak 118 orang, serta peserta program magang teknis sebanyak 98 orang.
Pejabat Divisi Urusan Internasional Prefektur Saitama mengatakan hasil survei ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan ke depan.
“Kami ingin menjadikan hasil ini sebagai dasar untuk memperkuat program dukungan bagi warga asing, termasuk pembelajaran bahasa Jepang,” ujarnya.
Diskusi beasiswa di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
Baca tanpa iklan