Dalam perkembangan terbaru, Israel mengonfirmasi bahwa serangan udara yang memicu kebakaran besar di sejumlah depot minyak di Teheran memang dilakukan oleh militernya.
Militer Israel menyatakan bahwa operasi tersebut menargetkan fasilitas penyimpanan bahan bakar yang disebut digunakan untuk mendukung infrastruktur militer Iran.
Menurut laporan media Israel, Israel Defense Forces (IDF) mengerahkan jet tempur untuk menyerang beberapa kompleks penyimpanan bahan bakar di sekitar ibu kota Iran.
Fasilitas-fasilitas tersebut diklaim menjadi bagian dari sistem logistik yang digunakan oleh militer Iran.
Pihak Israel menyebut serangan itu sebagai bagian dari operasi militer untuk melemahkan kemampuan operasional Iran.
“Target yang diserang adalah fasilitas penyimpanan bahan bakar yang digunakan untuk mengoperasikan infrastruktur militer Iran,” demikian pernyataan militer Israel.
Sementara itu, pemerintah Iran menuding serangan tersebut tidak hanya melibatkan Israel, tetapi juga didukung oleh Amerika Serikat. Media pemerintah Iran menggambarkan serangan itu sebagai agresi dari “Amerika Serikat dan rezim Zionis”.
Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai keterlibatan langsung dalam serangan tersebut.
Iran Balas Gempur Tel Aviv dan Yerusalem
Setelah sejumlah wilayah Iran diserang, pemerintah Teheran langsung melakukan serangan balik dengan menembakkan rudal dan drone ke beberapa wilayah Israel, termasuk kota utama Tel Aviv dan Yerusalem.
Ledakan dilaporkan terdengar di berbagai titik di Israel setelah rudal yang diluncurkan dari Iran memasuki wilayah udara negara tersebut.
Di Tel Aviv, beberapa bangunan dilaporkan mengalami kerusakan akibat serpihan rudal maupun dampak ledakan.
Sementara itu di Yerusalem, sirine serangan udara terus berbunyi sebagai tanda peringatan bagi warga untuk segera mencari perlindungan di bunker atau tempat aman lainnya.
Situasi ini semakin memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah. Serangan saling balas antara Iran dan Israel memicu kekhawatiran internasional bahwa konflik tersebut dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Hingga kini kedua pihak belum menunjukkan tanda-tanda akan meredakan konflik, sementara serangan balasan terus terjadi di berbagai wilayah.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan