News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Peringatkan Amerika–Israel, Harga Minyak Bisa Melonjak hingga 200 Dollar AS per Barrel

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Padahal sebelumnya pemerintah memperkirakan harga bahan bakar minyak (BBM) masih bisa stabil selama sekitar 20 hari ke depan, dengan asumsi harga minyak dunia berada di kisaran normal sekitar 92 dolar AS per barel.

Pada level tersebut, pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk melakukan langkah antisipasi melalui pengelolaan subsidi energi maupun kebijakan anggaran.

Namun jika harga minyak bertahan jauh di atas level tersebut, beban subsidi energi pemerintah diperkirakan akan meningkat tajam. Ibrahim memperingatkan kondisi ini berpotensi memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kalau harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS, bahkan sekitar 117 dolar AS seperti sekarang, kemungkinan besar defisit anggaran bisa mencapai sekitar 3,6 persen,” jelasnya.

Tekanan terhadap pasar domestik juga dipengaruhi oleh perkembangan politik di Iran setelah Seyyed Mojtaba Khamenei disebut-sebut menggantikan posisi ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin baru Iran.

Menurut Ibrahim, pemimpin baru tersebut dikenal memiliki pandangan yang lebih keras sehingga berpotensi memperpanjang konflik di kawasan Timur Tengah.

Ia memperkirakan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut dapat berlangsung cukup lama, bahkan hingga enam bulan ke depan.

Situasi semakin memanas setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyinggung kemungkinan perubahan rezim di Iran.

Pernyataan itu memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas.

Ketegangan tersebut juga berdampak pada jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia dari Timur Tengah.

Selat ini menjadi rute penting bagi ekspor minyak dari negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.

Gangguan di jalur tersebut membuat sejumlah negara produsen energi mulai mengurangi produksi sebagai langkah antisipasi terhadap meningkatnya risiko keamanan.

Kondisi ini membuat pasar global semakin sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah, sementara Indonesia ikut merasakan dampaknya melalui pelemahan rupiah, tekanan di pasar saham, serta potensi meningkatnya beban subsidi energi pemerintah.

(NBC NEWS/ANADOLU/GUARDIAN/AZERNEWS/KOMPAS/TRIBUNNEWS)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini