TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1479 pada Jumat (13/3/2026).
Pemerintah Amerika Serikat memberikan izin sementara selama 30 hari untuk membeli minyak dan produk petroleum dari Rusia yang saat ini masih berada di kapal di laut.
Kebijakan ini diumumkan oleh Office of Foreign Assets Control dari Departemen Keuangan AS.
Tujuan langkah ini adalah membantu menstabilkan pasar energi dunia yang sedang bergejolak.
Izin tersebut berlaku untuk minyak Rusia yang sudah dimuat ke kapal mulai 12 Maret 2026 dan akan berakhir pada 11 April 2026.
Artinya, negara atau perusahaan masih boleh membeli minyak tersebut selama periode waktu yang telah ditentukan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menjelaskan kebijakan ini hanya bersifat sementara dan sangat terbatas.
“@POTUS mengambil langkah-langkah tegas untuk mendorong stabilitas di pasar energi global dan berupaya menjaga harga tetap rendah saat kita mengatasi ancaman dan ketidakstabilan yang ditimbulkan oleh rezim Iran,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam sebuah unggahan di X pada hari Kamis (12/3/2026).
“Untuk meningkatkan jangkauan global dari pasokan yang ada, @USTreasury memberikan otorisasi sementara untuk mengizinkan negara-negara membeli minyak Rusia yang saat ini terdampar di laut,” kata Bessent.
Menurutnya, izin tersebut tidak akan memberikan keuntungan besar bagi pemerintah Rusia, karena sebagian besar pendapatan energi Rusia berasal dari pajak yang dipungut saat produksi minyak di dalam negeri.
Sebaliknya, Bessent mengatakan langkah ini justru bisa membantu perekonomian Amerika Serikat dalam jangka panjang.
Baca juga: Pesawat Tanker Militer AS Jatuh di Irak saat Dukung Operasi di Iran, Diduga Bertabrakan
Izin sementara ini diharapkan dapat menjaga pasokan energi agar tetap stabil dan mencegah lonjakan harga minyak di pasar global.
Sementara itu, Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller mengatakan pemerintah sedang berupaya menekan harga energi.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump juga menyatakan AS akan melonggarkan beberapa sanksi terkait minyak untuk menurunkan harga energi yang meningkat akibat serangan AS-Israel terhadap Iran.
Namun, Trump tidak merinci negara mana saja yang terdampak oleh kebijakan tersebut.
Baca tanpa iklan