TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1477 pada Rabu (11/3/2026).
Rusia disebut berupaya membentuk zona penyangga di sepanjang perbatasan wilayah Sumy dan Kharkiv di Ukraina.
Namun, Rusia kemungkinan tidak berencana melancarkan serangan besar ke kedua wilayah tersebut selama musim semi hingga musim panas.
Komandan Kelompok Pasukan Gabungan Ukraina, Mykhailo Drapaty, mengatakan langkah Rusia lebih bertujuan memperluas zona pengaruh di wilayah perbatasan. Hal itu disampaikannya dalam komentar kepada "Ukrainian Truth".
"Kita tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah 'front sekunder' atau 'front untuk mengalihkan pasukan kita.' Setiap kelompok Rusia memiliki tugasnya masing-masing. Bagi kelompok 'Sever', yang berada di seberang kita di wilayah Sumy dan Kharkiv, ini adalah zona penyangga, atau, seperti yang mereka sebut, 'zona pengaruh'," demikian kutipan pernyataan Drapaty dalam publikasi tersebut.
Ia menyebut terdapat sekitar 12 wilayah yang menjadi sasaran Rusia untuk memperluas kendali, termasuk kawasan Krasnopil, Velykopysariv, dan Zolochiv.
Sementara itu, juru bicara Layanan Penjaga Perbatasan Ukraina, Andriy Demchenko, mengatakan Rusia tidak memiliki kekuatan besar di arah Slobozhansk Utara, tetapi tetap berupaya menguji pertahanan Ukraina.
"Musuh tidak dapat mencapai kemajuan. Federasi Rusia mencoba menguji pertahanan kita. Di wilayah Sumy - Grabovske, Popivka, Sopych, di mana musuh tidak dapat mencapai hasil yang signifikan, tetapi ada upaya terus-menerus untuk menyerang posisi kita. Mungkin untuk membangun aksi lebih lanjut bagi mereka sendiri, untuk maju lebih dalam," lanjutnya.
Data analis militer DeepState menunjukkan lebih dari 293 kilometer persegi wilayah Sumy telah masuk zona merah.
Pasukan Rusia juga dilaporkan bergerak ke beberapa desa di wilayah tersebut, sementara sejumlah area di sepanjang perbatasan kini menjadi zona abu-abu yang diperebutkan kedua pihak, lapor Suspilne.
Baca juga: Putin: Rusia Siap Kembali Memasok Minyak ke Eropa, Tapi Ada Syaratnya
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang terbuka antara Rusia dan Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke berbagai kota di Ukraina. Serangan tersebut menjadi puncak dari ketegangan panjang yang sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun antara kedua negara.
Akar konflik bermula setelah runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina mulai mempererat hubungan dengan negara-negara Barat, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah ini dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di kawasan bekas Uni Soviet.
Ketegangan meningkat tajam pada 2014 ketika gelombang demonstrasi besar terjadi di ibu kota Ukraina, Kyiv. Aksi yang dikenal sebagai Revolusi Maidan itu berujung pada pergantian pemerintahan yang lebih condong ke Barat. Perubahan tersebut memicu reaksi keras dari Rusia, yang kemudian mengambil alih wilayah Krimea yang sebelumnya merupakan bagian dari Ukraina.
Pada saat yang sama, konflik bersenjata juga pecah di wilayah Donbas di Ukraina timur. Pasukan pemerintah Ukraina berhadapan dengan kelompok separatis yang diduga mendapat dukungan dari Rusia. Berbagai upaya diplomasi sempat dilakukan untuk meredakan situasi, namun ketegangan di kawasan tersebut tidak pernah benar-benar mereda.
Situasi akhirnya mencapai titik puncak pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan dimulainya operasi militer skala besar terhadap Ukraina. Rusia menyatakan langkah tersebut bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah Donbas serta mencegah perluasan NATO.
Baca tanpa iklan