TRIBUNNEWS.COM, AS - Di tengah perang melawan Iran yang kembali memanas, Mantan Pengacara Donald Trump bersuara.
Dia mengatakan Presiden Amerika Serikat (AS) itu harus mundur dari jabatannya.
Alasannya terjadi penurunan serius kondisi kesehatan mental Donald Trump.
Pernyataan tersebut menambah daftar tokoh di AS yang ingin Trump mundur dari jabatannya menggunakan Konstitusi AS yakni Amandemen ke-25.
Ty Cobb, yang bekerja di tim hukum Trump dari Juli 2017 hingga Mei 2018, mengatakan saat pertama kali menjabat presiden AS, Trump kerap diperingatkan oleh para pembantunya mengenai kebijakan ekstrem atau saat mengambil keputusan yang tidak bijaksana atau ilegal.
Dan tampaknya saat itu masih berhasil.
Tetapi pada masa jabatan keduanya yan dimulai 2024 lalu, kata Cobb, Trump telah mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang terlalu takut untuk menantangnya sama sekali.
Sehingga saran dari pembantu terdekatnya saat ini tidak mempan lagi untuk memperingatkan sang presiden.
Menurut The Mirror , Cobb juga percaya bahwa Trump menunjukkan tanda-tanda "penurunan fungsi lobus frontal" dan "kemungkinan demensia."
Ia berpendapat bahwa narsisisme Trump yang sudah lama ada telah memburuk akhir-akhir ini.
“Narsisisme selalu menjadi masalah baginya, tetapi tanpa kendali impuls yang diberikan oleh lobus frontal, hal itu telah lepas kendali dengan dahsyat. Itulah sebabnya kita melihat balas dendam, korupsi, delusi kebesaran, dan [dugaan] penyalahgunaan kekuasaan,” katanya.
Ia selanjutnya memperingatkan bahwa Trump berperilaku seperti seorang "diktator" virtual yang merusak demokrasi AS.
"Tidak pernah ada presiden yang mengumumkan kejahatan perang yang akan dilakukannya pada pukul 4 pagi atau menari di atas kuburan para pejabat publik yang berprestasi seperti Mueller," tambah Cobb.
Merujuk pada luapan emosi Trump di media sosial larut malam, ia berkata, "kita diperintah oleh orang gila saat ini, tidak ada cara lain untuk mengatakannya."
Baca tanpa iklan