TRIBUNNEWS.COM - Dampak perang yang kian memanas antara Amerika Serikat – Israel dan Iran kini mulai terasa langsung oleh masyarakat sipil.
Lonjakan harga energi global membuat warga Amerika harus merogoh kocek lebih dalam, bahkan harga solar dilaporkan menembus 5,04 dolar AS atau sekitar Rp85.000 per gallon, dimana satuan per galon yang digunakan di AS setara dengan 3,8 liter.
Adapun kenaikan harga ini meningkat 34 persen jika dibandingkan dengan harga per galon sehari sebelum AS dan Israel melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Bahkan lonjakan tersebut mendorong harga solar ke level tertinggi sejak Desember 2022, ketika invasi skala penuh Rusia ke Ukraina mengguncang pasar energi global.
Selain solar, harga minyak mentah dunia juga ikut terkerek naik. Diantaranya minyak acuan Brent kini menembus lebih dari 103 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS naik hingga di atas 96 dolar AS per barel.
Konflik Iran Jadi Pemicu Utama
Kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat terjadi akibat rangkaian peristiwa global yang saling berkaitan, seiring memanasnya konflik dengan Iran.
Mengutip Anadolu, gangguan terbesar berasal dari terganggunya pasokan minyak dunia yang menjadi bahan baku utama produksi solar.
Situasi ini bermula sejak operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, termasuk tokoh penting Iran, Ali Khamenei, yang semakin memperuncing ketegangan di kawasan.
Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menyasar berbagai target yang terkait dengan kepentingan Amerika Serikat.
Dampaknya meluas ke sejumlah negara di kawasan seperti Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, memperbesar skala konflik secara regional.
Baca juga: Saat Legenda dan Pecinta Bola Indonesia Dukung Timnas Iran Berlaga di Piala Dunia 2026
Kondisi semakin memburuk ketika Iran mengambil langkah strategis dengan menutup Selat Hormuz sebagai bentuk balasan.
Jalur vital ini sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap hari. Ketika arus distribusi terganggu, pasokan minyak mentah global ikut tersendat dan harga langsung melonjak tajam.
Kenaikan harga minyak mentah tersebut berdampak langsung pada biaya produksi bahan bakar di Amerika Serikat.
Meski menjadi salah satu produsen minyak terbesar, AS tetap terikat dengan mekanisme pasar global. Artinya, lonjakan harga minyak dunia otomatis meningkatkan biaya pengolahan hingga distribusi solar di dalam negeri.
Baca tanpa iklan