TRIBUNNEWS.COM - Konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 ternyata membawa dampak tak terduga bagi Rusia.
Di tengah krisis energi global, pendapatan sektor minyak Rusia dilaporkan melonjak tajam tembus ke level tertinggi hanya dalam satu bulan, yakni selama April 2026.
Lonjakan ini menjadi salah satu bukti nyata bagaimana konflik di Timur Tengah dapat menggeser peta ekonomi global, terutama di sektor energi.
Adapun kenaikan pendapatan Rusia dipicu oleh melonjaknya harga minyak dunia setelah memanasnya konflik antara AS–Israel dan Iran.
Ketegangan meningkat tajam setelah serangan militer pada akhir Februari, yang kemudian direspons Iran dengan menutup jalur strategis energi global, yakni Selat Hormuz.
Penutupan jalur tersebut berdampak besar karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia yang melewati kawasan itu.
Akibat gangguan distribusi tersebut, harga minyak dunia melonjak tajam. Minyak mentah Brent bahkan sempat menembus angka 100 dolar AS per barel.
Memicu krisis energi yang dirasakan di berbagai negara. Kenaikan harga ini secara langsung meningkatkan nilai jual minyak di pasar global, termasuk minyak ekspor Rusia.
Dalam kondisi pasokan global yang terganggu, permintaan terhadap minyak dari negara produsen alternatif seperti Rusia ikut meningkat.
Situasi ini memberikan keuntungan bagi Rusia, karena pendapatan negara dari sektor energi sangat bergantung pada harga minyak dan volume produksi.
Pendapatan Pajak Minyak Rusia Melonjak Drastis
Analis energi menilai bahwa lonjakan harga minyak menjadi faktor utama meningkatnya pendapatan Rusia.
Ketika harga naik drastis, pajak dan penerimaan negara dari sektor minyak otomatis ikut terdongkrak, meskipun tidak ada peningkatan produksi yang signifikan.
Hal tersebut terlihat dari kenaikan tajam pendapatan pajak minyak Rusia, khususnya dari pajak penambangan mineral.
Baca juga: Rusia Kehilangan Momentum di Ukraina, Serangan Drone Ukraina Ganggu Ekspor Minyak Rusia
Berdasarkan laporan Daily Sabah, pendapatan Rusia dari sektor tersebut diperkirakan mencapai sekitar 700 miliar rubel atau setara 9 miliar dolar AS pada April 2026, meningkat drastis dibandingkan 327 miliar rubel pada Maret 2026.
Kenaikan ini menunjukkan lonjakan lebih dari dua kali lipat hanya dalam waktu satu bulan, serta meningkat sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca tanpa iklan