TRIBUNNEWS.COM, ISRAEL - Perang Iran dengan Israel yang dibantu Amerika Serikat (AS) untuk sementara berhenti melalui gencatan senjata selama dua pekan.
Negosiasi kabarnya akan dilanjutkan antara AS dengan Iran di Pakistan besok.
Namun sebelum berlanjut ke meja perundingan, kabar kurang menyejukkan datang dari dalam negeri AS dan Israel.
Trump akan dimakzulkan
Survei terbaru yang dipublikasikan Newsweek pada Rabu (8/4/2026) waktu AS, memperlihatkan sebagian besar rakyat AS setuju Presiden AS dimakzulkan alias diturunkan dari jabatannya.
Trump dianggap tokoh yang getol memicu perang Iran serta membuat sejumlah kebijakan kontroversial dan tidak memihak rakyat AS.
Dari survei itu terdata 52 persen pemilih terdaftar mendukung pemakzulan Trump dan 40 persen yang menentangnya, sisanya abstain tidak memilih dengan margin kesalahan 3,9 persen.
Jajak pendapat ini diselenggarakan oleh John Bonifaz, presiden dan salah satu pendiri Free Speech for People untuk perusahaan jajak pendapat progresif veteran Celinda Lake.
Presiden Trump tidak tinggal diam.
Dia menyerang Candace Owens dan Alex Jones, dua tokoh konservatif yang menyerukan agar dia dicopot dari jabatannya.
“Mereka memiliki satu kesamaan, IQ rendah,” kata Trump.
“Mereka orang bodoh, mereka tahu itu, keluarga mereka tahu itu, dan semua orang juga tahu itu!”
Baca juga: Perang Propaganda di Timur Tengah: Beda Dulu dengan Sekarang
Netanyahu Diseret ke Pengadilan
Sementara itu di Israel, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi masalah politik dalam negeri.
Dia juga akan dihadapkan di pengadilan pekan depan.
Dikutip dari Jerusalem Post, Jumat (10/4/2026), para pemimpin oposisi Israel menuduh Netanyahu gagal memenuhi tujuan perang setelah gencatan senjata Iran.
Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, lawan politik Netanyahu dalam pemilu mendatang, mengatakan dalam konferensi pers pada Rabu malam bahwa tujuan perang telah diuraikan dengan jelas sebelumnya dan belum tercapai sebelum gencatan senjata.
Baca tanpa iklan