News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Pertama Kalinya! Resolusi Batasi Perang Iran Resmi Diteken DPR AS, Trump Dianggap Langgar Hukum

Penulis: Whiesa Daniswara
Editor: Nuryanti
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RESOLUSI PEMBATASAN PERANG - Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (DPR AS) saat mengumumkan pemberlakukan resolusi pembatasan kekuasaan perang atau War Powers Resolution pada Rabu (3/6/2026). Karena perang Iran sudah melewati batas waktu 90 hari, parlemen menilai Donald Trump telah melakukan pelanggaran hukum serius secara konstitusional.

TRIBUNNEWS.COM - Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (DPR AS) secara resmi mengumumkan pemberlakukan resolusi pembatasan kekuasaan perang atau War Powers Resolution, Rabu (3/6/2026).

Resolusi tersebut diloloskan untuk membatasi perang di Iran yang tak berkesudahan.

Langkah politik ini dinilai sebagai tamparan keras sekaligus bentuk perlawanan terbuka parlemen terhadap kebijakan militer Presiden Donald Trump di Timur Tengah.

Melalui pemungutan suara yang berlangsung dinamis di Capitol Hill, resolusi ini berhasil disahkan dengan kemenangan tipis 215 berbanding 208 suara. 

Menariknya, kemenangan kubu oposisi dicapai setelah empat anggota parlemen dari Partai Republik — partai yang menyokong Trump sendiri — membelot dan memilih bergabung dengan seluruh anggota faksi Demokrat.

Menurut The Washington Post, lolosnya resolusi tersebut menjadi indikasi kuat bahwa dukungan politik internal terhadap agresi militer Trump mulai terkikis.

Sejumlah politisi faksi Republik secara terbuka menyatakan rasa frustrasinya atas konflik bersenjata yang kini telah memasuki hari ke-90 tanpa arah dan strategi keluar yang jelas.

Terlebih saat ini stabilitas ekonomi domestik kian terpuruk akibat perang Iran.

Sebelum berhasil disahkan, petinggi Partai Republik di DPR sempat melancarkan taktik politik untuk menyelamatkan muka Gedung Putih.

Dua minggu lalu, agenda pemungutan suara ini secara mendadak dibatalkan, dan para anggota parlemen dipulangkan lebih awal untuk menjalani reses bulan Mei.

"Mari kita buka-bukaan saja: kubu Republik sengaja membatalkan pemungutan suara saat itu karena mereka tahu persis bahwa mereka akan kalah telak," ungkap Gregory Meeks, perwakilan senior Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri DPR AS.

Baca juga: Senat AS Mulai Resah, Cecar Marco Rubio Soal Sanksi Iran dan Selat Hormuz

Namun, upaya mengulur waktu tersebut terbukti gagal total.

Libur panjang parlemen sama sekali tidak menggoyahkan komitmen para pembelot Republik untuk tetap menyetujui draf resolusi yang menuntut penarikan mundur pasukan militer AS dari wilayah konflik.

Di sisi lain, Ketua DPR AS, Mike Johnson, mati-matian membela instruksi penyerangan yang dikeluarkan Trump.

Menurutnya, tindakan tegas tersebut murni dilakukan demi aspek keselamatan warga Amerika.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini