TRIBUNNEWS.COM - Keresahan mulai menyelimuti para anggota Senat Amerika Serikat (AS) terkait perang Iran yang tak kunjung usai.
Keresahan mulai mereka utarakan dengan memanggil Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
Dengan situasi Ruang Sidang Kongres AS yang tegang, Rubio menghadapi ujian berat dalam kesaksian publik pertamanya sejak konflik bersenjata melawan Iran meletus.
Mantan Senator Florida itu dicecar habis-habisan oleh para anggota dewan mengenai transparansi, strategi akhir perang, serta dampak ekonomi domestik yang kian mencekik warga Amerika.
Dalam sidang tersebut, Rubio menegaskan posisi keras Washington dengan menyebut tidak ada barter pelonggaran sanksi ekonomi hanya demi pembukaan kembali Selat Hormuz yang diblokade.
"Iran disanksi karena aktivitas nuklir mereka dan pengayaan uranium tingkat tinggi."
"Jika mereka ingin sanksi dicabut, syaratnya cuma satu: hentikan total program nuklir tersebut."
"Pelonggaran sanksi berbasis kepatuhan, bukan sekadar kompromi jalur laut," tegas Rubio di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, dikutip dariĀ Reuters.
Perang yang diinisiasi oleh serangan mendadak AS dan Israel pada 28 Februari lalu kini resmi memasuki bulan keempat.
Alih-alih mendapatkan peta jalan damai yang jelas, para anggota dewan justru disuguhkan klaim sepihak.
Ketegangan memuncak ketika Rubio melontarkan pernyataan kontroversial, "Perang sudah selesai," dalam adu argumen dengan Senator Demokrat, Cory Booker.
Baca juga: Iran Gempur Aset Militer AS di Kuwait-Bahrain, Penerbangan Lumpuh, Sejumlah Orang Terluka
Booker langsung memotong klaim tersebut dengan nada tinggi.
Ia menuding pemerintah Trump melakukan pembohongan publik dan mengabaikan wewenang Kongres melalui laporan ketentuan perang yang manipulatif.
"Anda mengirim dokumen ke Kongres yang menyatakan AS tidak berada dalam permusuhan aktif dengan Iran."
"Fakta di lapangan? Militer kita membombardir Iran, sementara kedutaan dan pangkalan militer kita di Timur Tengah dihujani bom oleh mereka."
Baca tanpa iklan