News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus Ebola

Ebola Mengganas di Kongo: Pemakaman Korban Tewas Akibat Virus Ricuh, Empat Relawan Terluka

Editor: Garudea Prabawati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

VIRUS KONGO - Dalam foto: Petugas dan relawan menangani peti jenazah pasien yang diduga kuat terjangkit virus Ebola di Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo (DRC). Foto tangkapan layar video Viory diambil pada Minggu (24/5/2026). Kericuhan terjadi dalam pemakaman korban Ebola di Bunia, Republik Demokratik Kongo, setelah warga memaksa peti mati dibuka.

 

TRIBUNNEWS.COM - Kekacauan pecah di pemakaman seorang korban penyakit virus Ebola di wilayah timur Republik Demokratik Kongo, menyebabkan empat relawan Palang Merah terluka parah.

Insiden itu terjadi Senin di pemakaman Nyamurongo, Kota Bunia, ibu kota Provinsi Ituri.

Menurut laporan Radio Okapi yang berafiliasi dengan PBB, situasi berubah ricuh ketika sekelompok pemuda menuntut agar peti mati dibuka.

Mereka ingin memastikan jenazah orang yang meninggal benar-benar berada di dalam peti tersebut.

“Tak lama sebelum penguburan, beberapa rekan almarhum serta pemuda dari masyarakat menuntut agar peti mati dibuka. Mereka ingin memastikan tubuh orang yang mereka cintai benar-benar hadir,” demikian laporan yang mengutip saksi mata.

Permintaan itu ditolak oleh relawan Palang Merah yang bertugas menjalankan prosedur pemakaman aman sesuai protokol penanganan Ebola.

Penolakan tersebut memicu kemarahan massa dan situasi dengan cepat berubah menjadi bentrokan fisik, mengutip Anadolu Agency, Rabu (3/6/2026).

Baca juga: Menkes Budi Gunadi Imbau Masyarakat Tak Panik Hadapi Ebola: Penularannya Tak Semudah COVID-19

Laporan itu menyebut para relawan diserang ketika mencoba menjelaskan langkah-langkah pencegahan kepada para pelayat. Aparat keamanan kemudian turun tangan untuk membubarkan kericuhan.

Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Palang Merah di Kongo terkait insiden tersebut.

Otoritas kesehatan setempat mengatakan perlawanan masyarakat, rumor, serta disinformasi memperumit penanganan wabah Ebola di Bunia dan Kota Nizi di timur laut negara itu.

Media lokal melaporkan sebuah video viral di media sosial ikut memicu amarah warga setelah menuduh peti mati yang dibawa tim medis dalam keadaan kosong.

Anggota parlemen Ituri, Jean-Pierre Bikilisende, menyebut insiden tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Sejak wabah terbaru diumumkan pada 15 Mei, epidemi Ebola masih aktif di tiga provinsi, yakni Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.

Hingga Senin (1/6/2026), jumlah kasus Ebola yang terkonfirmasi di Republik Demokratik Kongo telah melampaui 300 kasus dengan total 48 kematian.

(*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini