TRIBUNNEWS.COM - Dunia menghadapi ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi global seiring memanasnya konflik di Timur Tengah.
Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, memperingatkan bahwa perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu krisis energi yang berpotensi mengguncang ekonomi dunia.
Dalam pidatonya di National Press Club Australia, Senin (23/3/2026), Birol menyebut situasi saat ini sebagai ancaman besar yang tidak bisa diabaikan.
Ia menegaskan bahwa tidak ada satupun negara yang akan kebal jika krisis ini terus berlanjut.
“Ekonomi global saat ini menghadapi ancaman yang sangat besar, dan saya sangat berharap masalah ini dapat diselesaikan sesegera mungkin,” ujar Birol, mengutip dari DW.
Birol menggambarkan kondisi saat ini sebagai kombinasi dari dua krisis minyak dan satu krisis gas sekaligus.
Ia membandingkan situasi ini dengan guncangan minyak pada 1970-an serta dampak perang Rusia-Ukraina terhadap pasokan gas global.
Menurutnya, jika konflik terus bereskalasi, dampaknya bahkan bisa lebih buruk dibandingkan krisis energi sebelumnya.
Hal ini terutama dipicu oleh terganggunya jalur distribusi energi dunia di Selat Hormuz.
Selat Hormuz Jadi Kunci
Namun, konflik yang berlangsung membuat jalur tersebut hampir lumpuh. Gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker menyebabkan pasokan energi dunia terganggu dan memicu lonjakan harga minyak di pasar internasional.
Kondisi ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Presiden Donald Trump sebelumnya mendesak Iran untuk segera membuka kembali jalur tersebut.
Desakan ini muncul di tengah saling ancam antara Amerika Serikat dan Iran yang justru memperburuk situasi di kawasan.
Sementara itu, Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, menegaskan bahwa solusi paling penting untuk meredakan krisis energi saat ini adalah memastikan Selat Hormuz kembali dibuka sepenuhnya.
Baca juga: Iran Gertak, Ancam Hancurkan Infrastruktur Vital Teluk jika Trump Serang Pembangkit Listrik Teheran
Menurutnya, kelancaran distribusi energi global sangat bergantung pada normalisasi jalur tersebut.
Baca tanpa iklan