TRIBUNNEWS.COM – Wacana penghematan energi bukan hanya muncul di Indonesia.
Di tengah tekanan pasokan minyak dan gas global, sejumlah negara mulai menerapkan langkah efisiensi, mulai dari usulan work from home (WFH) sekali sepekan, pembatasan kendaraan, pemotongan pajak listrik, hingga imbauan mandi lebih singkat.
Salah satu langkah paling mencolok datang dari Korea Selatan. Presiden Lee Jae Myung menyerukan kampanye hemat energi nasional saat negaranya menghadapi risiko gangguan pasokan energi akibat gejolak di Timur Tengah.
Seperti diberitakan Reuters dan dimuat ulang TimesLIVE, Lee meminta lembaga publik mengurangi penggunaan kendaraan penumpang, sementara pemerintah juga mengajak warga mengubah kebiasaan sehari-hari agar konsumsi energi turun.
Dalam laporan itu, pemerintah Korea Selatan mendorong warga menjalankan 12 langkah hemat energi, antara lain memperpendek durasi mandi, mengisi daya ponsel dan kendaraan listrik pada siang hari, serta menggunakan mesin cuci dan vacuum cleaner pada waktu tertentu.
Presiden Lee menegaskan situasi ini membutuhkan respons cepat dari negara.
“Saat ini, yang paling penting bukan menghemat keuangan pemerintah, melainkan menyalurkan anggaran dengan cepat dan efektif ke tempat-tempat yang paling membutuhkan,” kata Lee, seperti dikutip dari Reuters.
Di Indonesia, pendekatan yang mengemuka sejauh ini lebih condong pada pengurangan mobilitas kerja.
Pemerintah tengah membahas kebijakan WFH satu kali dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN), bahkan skema serupa juga dianjurkan untuk sektor swasta, sebagai salah satu cara menekan konsumsi BBM di tengah ketidakpastian energi global.
Wacana itu menguat setelah pemerintah menilai pola kerja hibrida bisa menjadi salah satu opsi cepat untuk mengurangi beban konsumsi energi dari perjalanan harian pegawai.
Baca juga: Prabowo Wacanakan WFH 1 Hari Seminggu Imbas Konflik AS vs Iran, Bappisus: Sedia Payung sebelum Hujan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menekankan bahwa kebijakan ini disusun agar ada keseimbangan antara produktivitas dan efisiensi energi.
“Ada waktu-waktu tertentu yang memang tidak bisa sepenuhnya dikerjakan dari rumah,” ujar Airlangga.
Artinya, pemerintah tidak sedang mendorong WFH penuh, melainkan satu hari kerja dari rumah dalam sepekan sebagai langkah taktis untuk menghemat bahan bakar dan mengurangi tekanan biaya energi.
Namun, bila dibandingkan dengan negara lain, kebijakan Indonesia masih berada pada tahap yang relatif moderat. Indonesia baru menyentuh sisi mobilitas kerja, belum masuk pada pengaturan perilaku konsumsi energi rumah tangga secara detail seperti yang dilakukan Korea Selatan.
Korsel Lebih Agresif
Baca tanpa iklan