TRIBUNNEWS.COM - Guru Besar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Hikmahanto Juwana, menyatakan bahwa Iran siap menghadapi serangan darat yang akan dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS).
"Yang pasti kalau misalnya berkaitan dengan ground forces, maka tidak ada yang akan membantu pihak Iran. Jadi Iran dengan pasukan daratnya dia harus menghadapi pasukan Amerika Serikat dan mereka sudah siap," ujarnya dalam tayangan YouTube Kompas TV, Senin (30/3/2026).
Ia menyebut, kesiapan menghadapi pasukan AS juga telah disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Iran.
"Kalau kita lihat dari pernyataan-pernyataan dari Kementerian Pertahanan di Iran, mereka mengatakan bahwa kita sudah siap bahkan kita akan 'menjadikan neraka bagi para prajurit Amerika Serikat,'" tuturnya.
Ia menilai bahwa pihak Iran telah menunggu serangan darat dari AS. Pasalnya, sejauh ini perang dari kedua belah pihak berasal dari serangan udara.
Baca juga: Media Israel Haaretz: 8 dari 10 Rudal yang Diluncurkan Iran Berhasil Menghantam Target
"Jadi kalau kesiapan dari Iran, mereka sudah siap, mungkin yang mereka tunggu-tunggu karena selama ini serangan-serangan ke Iran dan balasannya juga dari Iran itu lebih banyak ke air strike."
"Jadi serangan udara, apakah dengan pesawat tempur, dengan rudal, dengan drone, tetapi tidak dengan pasukan darat," ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) tengah mempersiapkan operasi darat di Iran yang diperkirakan berlangsung selama beberapa minggu, lapor The Washington Post mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.
Para pejabat tersebut, menyatakan bahwa operasi darat itu tidak akan berupa invasi skala penuh, melainkan melibatkan serangan oleh pasukan operasi khusus dan infanteri konvensional.
Operasi tersebut, berpotensi mencakup serangan terhadap Pulau Kharg dan wilayah pesisir di sekitar Selat Hormuz.
The Washington Post menyebut belum jelas apakah Presiden AS Donald Trump akan menyetujui seluruh, sebagian, atau tidak satu pun dari rencana Pentagon tersebut.
Laporan ini muncul seiring pengumuman militer AS mengenai kedatangan pasukan tambahan di Timur Tengah.
Ribuan Personel Disiapkan
Dilansir Al Jazeera, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan, sekitar 3.500 personel tambahan telah tiba di kawasan tersebut menggunakan kapal USS Tripoli.
Para pelaut dan marinir itu tergabung dalam Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dan tiba pada 27 Maret 2026, bersama pesawat angkut, pesawat tempur serang, serta berbagai aset serbu amfibi dan taktis.
Pengerahan ini dilakukan meskipun Trump mengklaim negosiasi sedang berlangsung untuk mengakhiri perang di Iran.
Baca tanpa iklan