News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Putra Netanyahu Diminta Diseret ke Medan Perang, Didesak Turun Lawan Iran

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Febri Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

TRIBUNNEWS.COM - Pernyataan kontroversial datang dari mantan Kepala Strategi Presiden Amerika Serikat (AS), Steve Bannon, yang mendesak agar putra Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ikut terjun langsung dalam potensi perang darat melawan Iran.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tensi konflik antara Israel, AS, dan Iran.

Dalam siniar War Room, Bannon secara terbuka meminta agar Yair Netanyahu, putra Netanyahu, dikembalikan ke Israel untuk menjalani tugas militer.

Tak sampai di situ ia bahkan menyerukan agar Yair ditempatkan di garis depan jika terjadi invasi darat ke Iran.

“Pakaikan seragam padanya dan libatkan di gelombang pertama,” ujar Bannon, merujuk pada kewajiban militer yang secara teknis masih dapat dijalani oleh Yair sebagai bagian dari cadangan militer Israel.

Desakan tersebut tidak lepas dari sorotan terhadap keberadaan Yair yang dilaporkan lebih banyak berada di luar Israel sejak konflik meningkat pada Oktober 2023.

Media Israel menyebut Yair sempat tinggal di Miami bersama ibunya sehingga memicu kritik di tengah situasi perang yang menuntut mobilisasi nasional.

Bannon menilai, dalam situasi perang, seluruh elemen masyarakat termasuk keluarga pemimpin seharusnya ikut memikul beban yang sama. 

Ia menekankan bahwa keterlibatan langsung dari kalangan elite dapat menjadi simbol tanggung jawab sekaligus meningkatkan legitimasi kebijakan pemerintah di mata publik.

Selain faktor keadilan, desakan ini juga mencerminkan tekanan politik yang lebih luas terhadap pemerintah Benjamin Netanyahu.

Di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran, keputusan-keputusan strategis pemerintah Israel berada di bawah pengawasan ketat, baik dari dalam negeri maupun komunitas internasional.

Isu ini juga berkaitan dengan persepsi publik terhadap perang itu sendiri. Keterlibatan langsung keluarga pemimpin dinilai dapat memperkuat dukungan masyarakat, sementara ketidakhadiran mereka justru berpotensi memicu kritik bahwa beban konflik hanya ditanggung oleh rakyat biasa.

Baca juga: Ulah Trump di Iran Buat Harga BBM di AS Melonjak, Tembus Rp68 Ribu, Tertinggi sejak 2022

Kritik terhadap Negara Teluk dan Sekutu AS

Dikutip dari Middle East Monitor, Banon tak hanya menyoroti Israel, mantan kepala strategi itu juga melontarkan kritik keras kepada negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

Ia meminta agar para bangsawan dan elite dari negara-negara tersebut turut ambil bagian dalam operasi militer jika mereka memang mendukung aksi terhadap Iran.

Menurut Bannon, keterlibatan langsung tersebut penting sebagai bentuk tanggung jawab bersama, terutama bagi negara-negara yang dinilai memiliki kepentingan strategis dalam konflik.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini