News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Iran Ancam Serang Perusahaan AS, dari Microsoft hingga Boeing, Karyawan Diminta Tinggalkan Kantor

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

RUDAL IRAN - Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengancam akan menargetkan perusahaan teknologi dan industri besar Amerika Serikat mulai 1 April 2026 sebagai bentuk pembalasan atas serangan terhadap wilayah Iran. Dalam pernyataannya yang disiarkan media pemerintah, IRGC menyebut sedikitnya 18 perusahaan akan menjadi sasaran, termasuk Microsoft, Google, Apple, Intel, IBM, Tesla, serta Boeing (Tangkap Layar/Khaberni)

TRIBUNNEWS.COM, IRAN – Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengancam akan menargetkan perusahaan teknologi dan industri besar Amerika Serikat mulai 1 April.

Ancaman ini disebut sebagai bentuk pembalasan atas serangan terhadap wilayah Iran.

Dalam pernyataannya yang disiarkan media pemerintah, IRGC menyebut sedikitnya 18 perusahaan akan menjadi sasaran, termasuk Microsoft, Google, Apple, Intel, IBM, Tesla, serta Boeing.

IRGC memperingatkan bahwa operasi regional perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi terdampak, terutama di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan yang disampaikan oleh kantor berita Tasnim,  peringatan itu disertai imbauan kepada karyawan untuk segera meninggalkan tempat kerja demi keselamatan.

Baca juga: Trump Luapkan Kemarahan pada Sekutu yang Tak Bantu AS Serang Iran: Prancis Sangat Tidak Membantu

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat sendiri dalam beberapa waktu terakhir terus meningkat.

Ancaman terhadap perusahaan sipil menunjukkan meluasnya spektrum konflik, dari militer menjadi ekonomi dan teknologi.

Menanggapi ancaman tersebut, Gedung Putih mengatakan Amerika Serikat siap untuk melawan setiap potensi serangan.

“Militer Amerika Serikat siap dan telah siap untuk membatasi setiap serangan oleh Iran, sebagaimana dibuktikan oleh penurunan 90 persen dalam serangan rudal balistik dan drone oleh rezim teroris tersebut,” kata seorang pejabat Gedung Putih, yang berbicara dengan syarat anonim.

Peran Teknologi dalam Operasi Militer

Amerika Serikat diketahui sangat bergantung pada Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta kecerdasan buatan (AI) dalam mendukung operasi militernya.

Sistem ini tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dalam jaringan intelijen yang menggabungkan data dari satelit, drone pengawasan, intelijen sinyal, hingga analisis data secara waktu nyata.

Melalui sistem tersebut, militer mampu mengidentifikasi, melacak, dan menganalisis potensi ancaman dengan lebih cepat dan akurat.

AI berperan penting dalam memproses data dalam jumlah besar, menemukan pola, serta mendeteksi pergerakan atau anomali yang sulit ditangkap oleh analis manusia.

Perusahaan teknologi memiliki kontribusi, meskipun sering kali tidak langsung.

Baca juga: Amerika Vs NATO: Polandia, Prancis, dan Italia Membangkang Permintaan AS Berperang di Iran

Mereka menyediakan infrastruktur penting seperti layanan cloud, pemetaan digital, hingga kemampuan komputasi berbasis AI yang dapat diadaptasi untuk kebutuhan pertahanan.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini