News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ancaman Krisis Energi

Cara Malaysia Hemat Energi, Suhu AC Minimal 24°C dalam Ruangan, PNS Diminta Pakai Batik

Penulis: Hasanudin Aco
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Wakil Perdana Menteri Malaysia Fadillah Yusof berbicara soal efisiensi penggunaan energi di Malaysia.

TRIBUNNEWS.COM, KUALA LUMPUR -  Penggunaan energi di gedung-gedung pemerintahan Malaysia akan diperketat, termasuk menetapkan suhu pendingin ruangan tidak lebih rendah dari 24°C.

Suhu ruangan yang tidak terlalu dingin akan menghemat penggunaan energi.

Demikian kata Wakil Perdana Menteri Nalaysia Fadillah Yusof pada  Briefing Krisis Energi Global yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi lokal pada  Kamis (2/4/2026).

Fadillah, yang juga menjabat sebagai Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air ini, mendesak para pegawai negeri sipil (PNS) untuk mengenakan pakaian yang lebih sesuai dengan iklim setempat.

Misalnya PNS diminta pakai batik, kemeja kantor atau baju Melayu, untuk mengurangi ketergantungan pada pendingin ruangan yang berlebihan.

Menggunakan kemeja batik tidak perlu suhu ruangan yang terlalu dingin karena bahan baju yang tipis tidak seperti jas lengkap.

Dia mengatakan bahwa langkah ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk memberi contoh dalam penggunaan energi yang bijaksana.

"Sebagai respons proaktif terhadap krisis energi global, pemerintah akan menerapkan beberapa langkah penghematan energi di tingkat nasional," katanya.

Terapkan WFH

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga mengumumkan   kebijakan PNS bekerja dari rumah yang mulai berlaku 15 April mendatang.

Imbauan ini juga berlaku bagi perusahaan swasta di Malaysia.

Keputusan yang diambil dalam rapat kabinet ini bertujuan untuk memangkas konsumsi bahan bakar dan memastikan keberlanjutan pasokan energi nasional di tengah krisis energi global yang sedang berlangsung akibat perang di Timur Tengah.

Fadillah mengatakan Malaysia tetap dalam posisi stabil tetapi siap mengambil langkah proaktif untuk mengelola dampak krisis energi global, yang dipicu oleh konflik Timur Tengah yang telah mengganggu pasokan dan mendorong kenaikan harga minyak.

"Kita sekarang berada dalam fase yang menantang dalam lanskap ekonomi global. Krisis energi global yang sedang berlangsung, menyusul konflik di Timur Tengah, telah berdampak langsung pada pasokan dan harga energi di seluruh dunia," katanya.

Ia mencatat bahwa gangguan pada jalur-jalur utama seperti Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi aliran minyak global, telah meningkatkan ketidakpastian pasar dan mendorong harga lebih tinggi.

Sebagai negara dengan ekonomi terbuka, Malaysia tidak kebal terhadap dampak buruknya.

"Kita harus tetap waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan jika krisis berlanjut," kata Fadillah. 

Sumber: Bernama/The Stars

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini