TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gelombang unjuk rasa besar-besaran bertajuk aksi ‘No Kings’ tengah menyelimuti wilayah Amerika Serikat menyusul kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai otoriter.
Aksi yang disebut-sebut melibatkan sekitar 8 juta orang di 50 negara bagian ini menjadi sorotan dunia, termasuk warga Indonesia yang berada di sana.
Soeko Prasetyo, pria kelahira Solo yang telah puluhan tahun bermukim di Amerika Serikat ini menceritakan bahwa aksi di New York berpusat di titik ikonik Times Square.
Menurut Soeko, istilah ‘No Kings’ atau 'Bukan Raja' muncul karena masyarakat merasa Donald Trump seringkali mengambil kebijakan tanpa persetujuan Kongres, terutama terkait eskalasi konflik militer dengan Iran.
"Presiden Trump itu seolah-olah seperti raja dalam kebijakannya, yang selalu benar. Makanya muncul aksi 'No Kings'," ujar Soeko saat berbincang dalam program On Focus Tribunnews.com, Kamis (2/4/2026).
Namun, di balik aksi besar tersebut, Soeko mengungkap sebuah fakta paradoks mengenai gaya kepemimpinan Trump yang meledak-ledak.
Berdasarkan pengamatannya selama puluhan tahun tinggal di AS, ia menilai Trump seringkali mengeluarkan retorika yang jauh lebih besar daripada tindakan nyatanya di lapangan.
Salah satu contoh yang paling menonjol adalah soal isu imigrasi dan deportasi warga asing yang selama ini menjadi jualan politik utama Trump.
"Trump ini bicaranya selalu melebih-lebihkan dari apa yang terjadi. Kenyataannya, misalnya dalam imigrasi, dia tidak mendeportasi sebanyak yang dia bicarakan," ungkap Soeko.
Soeko membandingkan data deportasi di era Trump dengan presiden-presiden sebelumnya yang justru jauh lebih agresif dalam memulangkan warga asing ilegal secara administratif.
"Justru dibandingkan dengan presiden sebelumnya seperti (Barack) Obama atau George Bush, mereka itu jauh lebih banyak melakukan deportasi dibanding Trump," tuturnya.
Meski aksi unjuk rasa terus berlangsung rapi dan tanpa insiden kekerasan di New York, Soeko menyebut masyarakat saat ini tengah menanti realisasi janji Trump yang mengklaim bisa mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu dua minggu.
"Rakyat di sini tenang-tenang saja mengenai penarikan pasukan dari Iran itu, kita tanggapi dengan senang hati karena memang itulah tujuan demo saat ini. Kita tidak suka perang," pungkas Soeko.
Berikut petikan wawancara bersama Soeko Prasetyo dengan Tribunnews.com:
Tanya: Terkait aksi aksi "No Kings"?
Baca tanpa iklan