TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Iran tegas menyatakan tidak akan mengikuti meja perundingan dengan Amerika Serikat (AS) jika dua syarat utama mereka tidak dipenuhi, yakni gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa Teheran hanya akan berpartisipasi dalam pembicaraan tersebut jika kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya diimplementasikan secara nyata.
"Dua hal ini harus dipenuhi sebelum negosiasi dimulai. Gencatan senjata di Lebanon dan pelepasan aset Iran yang diblokir adalah syarat mutlak," tulis Qalibaf melalui akun X miliknya, seperti dikutip Fars News, Jumat (10/4/2026).
Baca juga: Trump: Senjata Terkuat akan Dipakai Jika Negosiasi AS-Iran Gagal
Pernyataan ini muncul di tengah ketidakpastian mengenai cakupan gencatan senjata dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan.
Sementara Iran dan sekutunya menganggap Lebanon masuk dalam paket perdamaian, Israel dan AS cenderung memiliki penafsiran berbeda.
Buntut sikap keras Teheran, Presiden AS Donald Trump dilaporkan mulai mengambil langkah untuk meredakan tensi.
Dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Trump meminta agar Israel menurunkan intensitas militernya.
"Saya sudah berbicara dengan Bibi (Netanyahu) dan dia akan menurunkan intensitasnya. Saya pikir kita harus sedikit lebih tenang," ujar Trump kepada NBC News.
Langkah ini didukung oleh Wakil Presiden JD Vance yang akan memimpin delegasi ke Pakistan.
Vance mengisyaratkan bahwa Israel mulai menahan diri di Lebanon demi menjaga peluang keberhasilan diplomasi di Islamabad.
"Pihak Israel mencoba menata situasi agar perundingan kita sukses. Bukan karena itu bagian dari (dokumen) gencatan senjata, tapi mereka ingin memberikan ruang bagi kesuksesan diplomasi," kata Vance.
Diplomasi dua jalur Netanyahu
Di sisi lain, PM Benjamin Netanyahu berada dalam posisi yang dilematis. Meski berjanji akan terus menekan Hezbollah, ia juga mengumumkan kesediaan untuk memulai dialog langsung yang bersejarah dengan pemerintah Lebanon di Washington pekan depan.
"Saya telah menginstruksikan Kabinet untuk memulai negosiasi langsung dengan Lebanon guna mencapai dua tujuan, yakni pelucutan senjata Hezbollah dan perjanjian damai yang berkelanjutan," tegas Netanyahu dalam sebuah pesan video seperti dikutip NPR.
Namun, pemerintah Lebanon melalui Presiden Joseph Aoun tetap bersikukuh bahwa gencatan senjata harus terjadi terlebih dahulu sebelum negosiasi dimulai.
Baca tanpa iklan