News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Perundingan Oman Sempat Beri Harapan Damai, Pengamat: Serangan AS Picu Ketidakpercayaan Iran

Penulis: Wahyu Gilang Putranto
Editor: Nanda Lusiana Saputri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI - Peluang perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat sebenarnya sempat terbuka sebelum konflik kembali memanas, terutama melalui perundingan yang berlangsung di Oman pada Februari lalu. Pengamat mengungkapkan bahwa pembicaraan tersebut menunjukkan sinyal positif, termasuk keterbukaan Iran untuk bernegosiasi terkait program nuklirnya.

TRIBUNNEWS.COM - Peluang perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat sebenarnya sempat terbuka sebelum konflik kembali memanas, terutama melalui perundingan yang berlangsung di Oman pada Februari lalu.

Pengamat Timur Tengah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nostalgiawan Wahyudi, mengungkapkan, pembicaraan tersebut menunjukkan sinyal positif, termasuk keterbukaan Iran untuk bernegosiasi terkait program nuklirnya.

“Ada hal yang menarik ketika sebelum perang itu terjadi, perundingan di Oman itu cukup optimistis. Iran saat itu mulai terbuka untuk negosiasi nuklir, termasuk pengurangan pengayaan uranium,” ujar Nostalgiawan dalam dialog Overview Tribunnews, Rabu (15/4/2026).

Perundingan di Oman sendiri memang menjadi salah satu jalur diplomasi antara kedua negara, meski dilakukan secara tidak langsung melalui mediator.

Namun, momentum positif itu dinilai runtuh setelah terjadinya serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung.

Nostalgiawan menilai langkah tersebut mencederai kepercayaan Iran dan memperluas target strategis negara tersebut.

“Kita sangat menyesalkan ketika pembicaraan yang cukup positif itu justru diikuti dengan penyerangan. Ini mencederai kepercayaan Iran terhadap Amerika,” katanya.

Ia menjelaskan, pascaeskalasi konflik, fokus Iran tidak lagi terbatas pada isu Selat Hormuz, melainkan meluas ke sejumlah kepentingan strategis yang dianggap tidak dapat dinegosiasikan.

Menurutnya, terdapat tiga isu utama yang menjadi garis merah Iran, yakni program nuklir, penguasaan Selat Hormuz, serta perlindungan terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah di Lebanon.

“Ini yang menjadi unnegotiable bagi Iran, tidak bisa ditawar,” tegasnya.

Baca juga: Pengamat: Donald Trump Terdesak Akhiri Perang Lawan Iran

Iran Tunjukkan Kesiapannya terhadap Eskalasi

Lebih lanjut, Nostalgiawan menilai Iran telah menunjukkan kesiapannya menghadapi segala kemungkinan dalam konflik dengan AS.

Perkembangan konflik Iran dan AS dinilai semakin sulit diprediksi, terutama dari sisi strategi militer maupun kebijakan yang diambil Teheran.

Ia menyebut bahkan Amerika Serikat sendiri kerap tidak mampu membaca langkah Iran dalam konflik yang berlangsung.

“Satu hal yang perlu kita cermati, kita sangat sulit untuk memprediksi strategi dari Iran. Jadi Amerika saja tidak mengetahui strategi Iran itu seperti apa,” ujar Nostalgiawan.

Ia menjelaskan, kejutan demi kejutan kerap muncul dalam dinamika perang, termasuk terkait kemampuan militer Iran yang sebelumnya diperkirakan terbatas.

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini