News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Selat Hormuz Jadi Medan Baru Rivalitas Amerika Serikat-China

Editor: Wahyu Aji
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

BLOKADE SELAT HORMUZ - Lalulintas kapal di Selat Hormuz sebelum blokade militer oleh Iran dampak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran. Selat ini menjadi jalur vital bagi lalulintas kapal pengangkut minyak dari produsen-produsen minyak dunia yang berada di kawasan Timur Tengah.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pernyataan Menteri Pertahanan China Dong Jun pada April ini menandai pergeseran signifikan dalam diplomasi Beijing, dari pendekatan yang selama ini cenderung menahan diri menjadi pesan deterensi yang lebih tegas, terutama terkait situasi di Selat Hormuz.

Associate Professor Universitas Beni Suef Mesir, Dr. Nadia Helmy, menilai pernyataan tersebut bukan sekadar sikap politik, melainkan bentuk deterensi praktis terhadap pihak-pihak yang menghambat navigasi di kawasan tersebut, khususnya di tengah blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat (AS).

Ia menyoroti penegasan China bahwa kapal-kapalnya akan terus beroperasi di Selat Hormuz dan tidak akan menerima 'pengawasan eksternal' atas relasi mereka.

Menurut Helmy, sikap ini juga mencerminkan pengakuan implisit China terhadap kedaulatan Iran atas selat tersebut.

“Ini merupakan tantangan langsung terhadap tekanan AS yang bertujuan mengontrol atau menutup selat,” ujarnya, dikutip dari Modern Diplomacy, Minggu (19/4/2026).

Blokade AS dan Respons China

Helmy menggambarkan hubungan antara jaminan China kepada Iran dan strategi blokade laut AS sebagai 'persamaan kompleks yang terus meningkat'.

Dirinya menilai langkah China tidak serta-merta akan memaksa Washington mundur, bahkan justru berpotensi memicu eskalasi.

Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut mempertimbangkan blokade laut terhadap Iran dan Selat Hormuz, sekaligus memperingatkan China agar tidak memberikan dukungan militer kepada Teheran.

“Washington melihat pengetatan tekanan terhadap Iran sebagai bagian dari konfrontasi yang lebih luas dengan Beijing,” kata Helmy.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap bentuk blokade balasan antara AS dan China berpotensi menjadi “pemicu perang” yang dapat menyeret kedua kekuatan besar ke konflik langsung.

Ketergantungan Energi

Menurut Helmy, sikap tegas China tidak lepas dari ketergantungannya yang besar terhadap minyak Iran.

China disebut membeli lebih dari 80 persen impor minyaknya dari Iran, sekitar 1,38 juta barel per hari.

“China adalah negara yang paling bergantung pada Selat Hormuz untuk kebutuhan energinya,” tulisnya.

Selain itu, sekitar 40 persen impor minyak China dan 30 persen kebutuhan LNG juga melewati jalur tersebut. Kondisi ini membuat Beijing menolak keras segala upaya penutupan selat.

Helmy juga mencatat China menggunakan hak veto terhadap resolusi yang dinilai hanya menyalahkan Iran, tanpa menyentuh akar konflik.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini