News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Tiga Hari yang Krusial, Perang Lanjutan Iran dan AS-Israel di Depan Mata

Penulis: Hasiolan Eko P Gultom
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PERANG LANJUTAN - Tangkap layar bendera Iran-Amerika-Israel. Gencatan senjata dua minggu dalam perang Iran melawan AS-Israel berada di ambang keruntuhan di mana kedua kubu belum mencapai kata sepakat soal tuntutan masing-masing.

Tiga Hari yang Krusial, Perang Lanjutan Iran dan AS-Israel di Depan Mata

TRIBUNNEWS.COM - Saat gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendekati akhir, ketegangan meningkat di tengah ketidakpastian tentang masa depan negosiasi antara kedua pihak, dan dunia menahan napas menunggu untuk melihat bagaimana hasilnya.

Tiga hari ke depan, menjadi hari-hari krusial apakah perang Iran melawan serangan AS-Israel berhenti dengan gencatan senjata dengan dasar yang lebih kuat, atau justru sebaliknya, perang lanjutan akan berkobar -membakar lebih panas 'harga minyak' yang sudah pada titik tinggi saat ini.

Baca juga: Data Tunjukkan Iran Masih Kuat Lawan AS, Masoud Pezeshkian: Memang Siapa Trump? Ngatur-ngatur!

Sementara koridor diplomatik di ibu kota Pakistan, Islamabad, dipenuhi dengan janji-janji tentang "kesepakatan yang akan segera tercapai," perairan Selat Hormuz menceritakan kisah yang berbeda.

"Tanda-tanda niat baik" Iran memudar di bawah tekanan "blokade angkatan laut" Amerika Serikat (AS).

Selat Hormuz yang tadinya sempat dibuka Iran untuk semua kapal, mendadak ditutup lagi.

"Hal ini mengubah koridor energi menjadi medan uji nyata untuk memajukan kesepakatan perdamaian antara Washington dan Teheran," kata ulasan Khaberni, Minggu (19/4/2026).

Oleh karena itu, manuver-manuver di Selat Hormuz antara AS dan Iran ini adalah persaingan sengit antara keinginan Presiden AS Donald Trump untuk menyimpulkan "kesepakatan bersejarah" yang akan mengakhiri pemboman selama berminggu-minggu, dan desakan Iran untuk mendapatkan pengakuan atas "kemenangan di lapangan" dan memberlakukan aturan baru di jalur pelayaran terpenting di dunia.

Baca juga: Trump Ancam Hancurkan Seluruh Iran, IRGC Bersiap Perang Lanjutan: Peluncur Rudal Bertambah

PENUH RANJAU - Tangkap layar WN yang menunjukkan posisi kapal-kapal di Selat Hormuz. Selat yang menjadi jalur penting perdagangan dunia itu dipenuhi ranjau laut yang dipasang Iran dalam perang melawan serangan Amerika Serikat dan Israel. (Tribunnews.com/Tangkap Layar/WN)

Bom yang Bersiap Meledak Kembali

Krisis Iran-Amerika sedang mengalami keadaan ketidakstabilan politik dan lapangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Situasinya berfluktuasi antara optimisme yang hati-hati dan peringatan akan kembalinya "bahasa bom".

Fluktuasi ini bukan sekadar perbedaan pandangan, tetapi cerminan dari konflik kehendak.

Sementara Gedung Putih berupaya memasarkan "kemajuan" yang menenangkan pasar energi, Teheran bersikeras bahwa setiap kemajuan yang tidak menyentuh pencabutan "blokade angkatan laut" di pelabuhannya hanyalah manuver yang tidak mewajibkan angkatan lautnya untuk tetap diam.

Kontradiksi ini menguji gencatan senjata rapuh yang dimulai pada 8 April, dan mengubah beberapa hari berikutnya menjadi ujian nyata apakah akan melanjutkan perjanjian perdamaian atau kembali ke peperangan di medan terbuka.

Kata Sepakat Masih Jauh

Dalam pernyataannya yang mencerminkan perspektif jangka panjang negosiator Iran, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf menguraikan batasan harapan Iran, menekankan kalau pembicaraan di Islamabad telah "mengalami kemajuan" tetapi belum mencapai tingkat "kesepakatan akhir."

Qalibaf menekankan kalau perbedaan sikap Iran-As tersebut masih "mendasar," menggambarkan pemerintahan AS sebagai "kurang kredibilitas" dan bahwa mereka harus meninggalkan "pendekatan diktatornya."

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini