Kenaikan mencakup bahan karet sintetis dan nitril untuk bahan baku kondom, hingga material pengemasan dan pelumas seperti aluminium foil serta minyak silikon.
Meskipun biaya operasional meningkat, Goh memastikan bahwa Karex masih memiliki pasokan yang cukup untuk beberapa bulan ke depan.
Perusahaan juga berupaya menggenjot hasil produksi demi memenuhi permintaan global yang terus tumbuh.
Kekhawatiran akan kelangkaan produk muncul setelah stok kondom dunia merosot tajam menyusul pemotongan besar-besaran anggaran bantuan luar negeri, terutama oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) pada tahun lalu.
Di awal tahun 2026 sendiri, permintaan kondom tercatat melonjak sekitar 30 persen.
Namun, masalah distribusi di jalur laut semakin memperparah kondisi kekurangan stok di berbagai belahan dunia.
Pengiriman produk Karex ke tujuan utama seperti Eropa dan Amerika Serikat kini memakan waktu hampir dua bulan, dua kali lipat lebih lama dibandingkan durasi normal yang biasanya hanya memakan waktu satu bulan.
"Kami melihat lebih banyak kondom sebenarnya tertahan di kapal-kapal yang belum tiba di tujuan namun sangat dibutuhkan," kata Goh.
Ia menambahkan bahwa banyak negara berkembang saat ini tidak memiliki stok yang memadai karena hambatan waktu pengiriman tersebut.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan