TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak mentah Brent melonjak menembus 106 dolar AS per barel setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memanas di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia.
Al Jazeera melaporkan, harga Brent mencapai 106,80 dolar AS per barel pada Jumat (24/4/2026) pukul 01.00 GMT, naik hampir 5 persen dibanding penutupan sebelumnya dan menjadi level tertinggi dalam dua pekan terakhir.
Lonjakan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz harus mendapat izin dari Angkatan Laut AS.
Trump juga memerintahkan militer AS untuk menghancurkan kapal Iran yang diduga memasang ranjau di jalur strategis tersebut.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menegaskan tidak ada kapal yang bisa masuk atau keluar dari selat tanpa persetujuan Washington.
“Ini ditutup rapat sampai Iran mampu membuat kesepakatan,” tulis Trump.
Iran Balas dengan Menahan Kapal
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penahanan dua kapal kargo asing, yakni MSC Francesca berbendera Panama dan Epaminondas milik Yunani.
Iran menuduh kedua kapal itu beroperasi tanpa izin dan membahayakan keamanan maritim serta merusak sistem navigasi.
Baca juga: Pengamat: Ketahanan Energi RI Terancam, Konflik Iran–Amerika Serikat Picu Risiko Krisis Pasokan
Namun, otoritas Yunani membantah kapal Epaminondas ditahan dan menyebut kapal tersebut masih berada di bawah kendali kaptennya.
Lalu Lintas Selat Hormuz Nyaris Lumpuh
Selat Hormuz biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Kini, aktivitas pelayaran di jalur tersebut menurun drastis.
Menurut platform intelijen maritim Windward, hanya sembilan kapal komersial yang melintas pada Rabu, jauh di bawah rata-rata normal 129 kapal per hari sebelum perang dimulai pada akhir Februari.
Yahoo Finance melaporkan, hampir tertutupnya Selat Hormuz telah menyebabkan gangguan besar terhadap aliran minyak dari produsen utama di Teluk Persia.
Pasar Global dan Saham Ikut Terguncang
Ketegangan ini langsung mengguncang pasar keuangan global.
Indeks S&P 500 turun 0,41 persen, sementara Nasdaq Composite melemah 0,89 persen.
Baca tanpa iklan