Namun, akses ke situs luar negeri, media sosial global, dan komunikasi internasional sangat dibatasi atau bahkan tidak bisa diakses sama sekali.
Para pakar menilai, penggunaan intranet nasional ini juga menjadi alat kontrol negara terhadap ruang digital. Dengan memusatkan lalu lintas data di dalam negeri, pemerintah dapat memantau, menyaring, dan membatasi informasi yang beredar di masyarakat.
Pendidikan Terancam, Generasi Muda Berisiko Tertinggal
Meski demikian, kebijakan ini berdampak besar bagi warga. Selain membatasi akses informasi global, pemadaman internet juga memunculkan kesenjangan baru.
Banyak siswa dari keluarga kurang mampu tidak memiliki perangkat seperti laptop atau ponsel pintar untuk mengikuti kelas online.
Kondisi ini semakin sulit di wilayah terpencil seperti Sistan dan Baluchistan, yang memiliki keterbatasan infrastruktur dan akses internet.
Akibatnya, sebagian siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran secara optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menyiapkan solusi sementara dengan menyiarkan materi pelajaran melalui televisi nasional.
Beberapa mata pelajaran seperti matematika dan fisika dijadwalkan tayang pada jam tertentu guna menjangkau siswa yang tidak memiliki akses internet.
Situasi ini menunjukkan bahwa dampak perang tidak hanya dirasakan di sektor ekonomi dan keamanan, tetapi juga mengancam masa depan pendidikan generasi muda.
Ketergantungan pada intranet terbatas dan siaran televisi dinilai belum mampu menggantikan efektivitas pembelajaran tatap muka.
Sementara itu, di parlemen Iran tengah berlangsung pembahasan untuk mempercepat pengembangan jaringan informasi nasional dan meningkatkan kualitas pembelajaran jarak jauh.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan