Setiap kebuntuan AS-Iran yang berkepanjangan atau blokade angkatan laut di Hormuz, dapat memaksa China mengganti minyak Iran yang lebih murah dengan alternatif yang lebih mahal, sementara biaya pengiriman dan asuransi yang meningkat akan menambah tekanan lebih lanjut.
Riboua mengatakan, Iran juga berfungsi sebagai tempat uji coba untuk penghindaran sanksi dan pengembangan saluran keuangan alternatif.
“Apa yang dilakukan Iran bagi China pada dasarnya adalah menjadi laboratorium penghindaran sanksi.”
Jaringan yang terkait dengan China telah menggunakan perusahaan fiktif, transfer antarkapal, pelabelan ulang kargo, serta saluran pembayaran alternatif untuk menjaga aliran minyak Iran tetap berjalan meskipun ada pembatasan Barat.
‘Ingin AS Terjebak di Timur Tengah’
Upaya Iran untuk mempersenjatai Selat Hormuz mungkin juga merugikan salah satu mitra terpentingnya, China.
“Iran mengira bahwa dengan mempersenjatai Selat Hormuz, mereka dapat memaksa presiden AS,” kata Riboua.
“Namun, dalam prosesnya, mereka justru merugikan China.”
Dengan ketergantungan China yang tinggi terhadap aliran energi regional, setiap gangguan yang berkepanjangan akan meningkatkan risiko bagi Beijing.
Riboua berpendapat bahwa persaingan global yang lebih luas tetap berpusat di Asia.
“China ingin Amerika terjebak di Timur Tengah,” katanya.
“Itu adalah skenario yang sempurna ketika China mempertimbangkan kemungkinan serangan terhadap Taiwan.”
Pengaruh China atas Iran
Dalam konteks konflik perang Iran-AS, China berupaya mempertahankan hubungan dengan Iran yang lebih kompleks.
Mengutip Forbes, hal ini sebagian karena hubungan tersebut didorong oleh keinginan China untuk memperkuat Iran sebagai penyeimbang pengaruh AS di kawasan Timur Tengah.
Karena itu, China terus menjalin hubungan ekonomi dengan Iran, termasuk membantu negara tersebut menghindari sanksi Barat.
Kedua negara juga menandatangani kemitraan strategis selama 25 tahun pada 2021 untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan teknologi.
Baca tanpa iklan