Selain itu, hampir 1.400 bom udara berpemandu dan sekitar 60 rudal berbagai jenis juga diluncurkan.
Zelensky menilai serangan besar-besaran itu menunjukkan tekanan militer Moskow belum mereda.
Polandia Siapkan Armada Drone Hadapi Ancaman Rusia
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengatakan pemerintahnya berencana membangun armada drone besar dengan bantuan Ukraina.
Langkah itu disebut sebagai bagian dari strategi pertahanan Polandia dan perlindungan seluruh Eropa.
Tusk menilai pengalaman Ukraina dalam perang modern sangat penting untuk pengembangan sistem pertahanan baru.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga mengumumkan peningkatan besar dalam produksi robot darat militer.
Baca juga: Prajurit Ukraina Kelaparan Parah, Muncul Foto-foto Tentara Infanteri Kurus Kering: Minum Air Hujan
Robot tersebut dapat mengirim pasokan logistik, mengevakuasi tentara yang terluka, hingga menembakkan senjata otomatis.
Kyiv telah memesan 25.000 robot darat untuk tahun ini.
Jumlah itu meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2025.
Zelensky mengatakan angka tersebut masih akan terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan perang.
Ukraina Serang Kilang Rusia, NATO Tambah Dukungan
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut negaranya menerima sejumlah kabar baik dari mitra Barat dalam beberapa pekan terakhir.
Ia mengatakan negara-negara NATO, kecuali Amerika Serikat, telah membantu pengaturan keuangan untuk membeli senjata buatan AS.
Uni Eropa juga menyetujui pinjaman sebesar 90 miliar euro atau sekitar 106 miliar dolar AS untuk Ukraina.
Selain itu, Brussel disebut bersiap memberlakukan sanksi baru terhadap Moskow.
Di tengah dukungan tersebut, Ukraina terus melancarkan serangan terhadap terminal dan kilang minyak jauh di dalam wilayah Rusia.
Serangan dilakukan menggunakan drone dan rudal jarak jauh.
Target utama Kyiv adalah mengganggu ekonomi Rusia dan menekan kemampuan logistik perang Moskow.
Institute for the Study of War yang berbasis di Washington mengatakan pihaknya menemukan bukti setidaknya 10 serangan terhadap infrastruktur minyak dan gas Rusia dalam dua minggu terakhir.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan