TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) menggunakan istilah "senjata nuklir" ketika menggambarkan dampak dari blokade yang diberlakukan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menuduh Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai “senjata nuklir ekonomi” untuk menekan dunia.
Ia menilai langkah Teheran mengendalikan jalur energi vital tersebut berpotensi menciptakan preseden berbahaya bagi stabilitas global.
Dalam wawancara dengan Fox News, Rubio menyatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz tidak dapat disertai syarat sepihak dari Iran.
“Jika yang mereka maksud dengan membuka selat adalah harus berkoordinasi dengan Iran atau meminta izin mereka, itu bukanlah pembukaan,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia menegaskan bahwa selat tersebut merupakan perairan internasional, bukan wilayah yang dapat dikendalikan satu negara.
Rubio juga memperingatkan bahwa dominasi Iran atas Selat Hormuz dapat berdampak luas terhadap pasokan energi dunia. Ia menyebut jalur tersebut sebagai titik krusial yang mengalirkan sebagian besar minyak global.
“Ini setara dengan senjata nuklir ekonomi yang mereka coba gunakan terhadap dunia,” katanya, menyoroti potensi tekanan ekonomi yang dapat ditimbulkan jika akses selat dibatasi.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, termasuk gangguan berulang terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
Rubio menuding Iran tidak hanya berupaya mengendalikan wilayahnya, tetapi juga ingin memperluas pengaruh di Timur Tengah.
Baca juga: AS Tak Lagi Digubris, Iran Pilih Putar Haluan ke Asia Tawarkan Aliansi Pertahanan Baru
Ia bahkan menyinggung klaim Iran yang disebut “membual” mampu menyandera hingga seperempat pasokan energi dunia.
Selain isu energi, Rubio menegaskan bahwa program nuklir Iran tetap menjadi perhatian utama Washington.
“Masalah nuklir adalah alasan kita berada dalam situasi ini sejak awal,” ujarnya.
Ia menolak kemungkinan adanya tokoh moderat dalam kepemimpinan Iran dan memperingatkan bahwa Teheran pada akhirnya akan berupaya memiliki senjata nuklir.
Lebih lanjut, Rubio menilai setiap kesepakatan dengan Iran harus mencakup pembatasan tegas terhadap program nuklirnya.
Baca tanpa iklan