TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kian berdampak nyata pada jalur distribusi energi global.
Sebanyak enam kapal tanker pengangkut minyak Iran dilaporkan terpaksa berbalik arah dalam beberapa hari terakhir akibat blokade yang diberlakukan Amerika Serikat di kawasan strategis Selat Hormuz.
Dalam praktiknya, blokade tersebut dilakukan melalui operasi patroli intensif oleh angkatan laut AS.
Kapal-kapal yang diduga membawa minyak atau memiliki keterkaitan dengan Iran akan diperiksa, dihentikan, bahkan dipaksa berbalik arah sebelum mencapai jalur perdagangan internasional.
Selain itu, blokade juga mencakup pengawasan ketat berbasis intelijen dan satelit, yang digunakan untuk melacak pergerakan kapal tanker sejak dari pelabuhan asal.
Akibatnya, kapal-kapal komersial iran menghadapi tekanan, pengawasan dan pencegatan oleh AS di laut lepas.
Berdasarkan data pelacakan kapal dan analisis satelit, setidaknya dalam beberapa hari terakhir enam kapal tanker Iran yang membawa sekitar 10,5 juta barel minyak terpaksa putar balik saat melewati kawasan strategis Selat Hormuz
Meski pembatasan semakin ketat, beberapa kapal tanker masih berhasil menembus blokade. Data dari TankerTrackers.com yang dikutip Reuters mencatat setidaknya dua kapal tanker yang membawa sekitar empat juta barel minyak Iran berhasil melanjutkan perjalanan menuju Asia pada 24 April.
Namun, banyak kapal lainnya terpaksa berhenti atau mengubah rute. Empat kapal tanker kosong yang kembali dari Asia bahkan terdeteksi berada di perairan lepas pantai Pakistan, menunggu kepastian situasi.
Analis juga mengungkapkan bahwa sejumlah kapal dialihkan hingga ke wilayah Selat Malaka, menambah ketidakpastian apakah muatan minyak akan sampai ke tujuan atau justru kembali ke Iran.
Lalu Lintas Selat Hormuz Anjlok Drastis
Pasca ketegangan antara AS dan Iran memanas, lalu lintas kapal di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir, memicu kekhawatiran besar di pasar energi global.
Baca juga: Trump Ngaku Diminta Iran agar Buka Selat Hormuz: Mereka Berada dalam Keadaan Runtuh
Jalur laut strategis yang biasanya dilalui sekitar 125 hingga 140 kapal per hari kini hanya mencatat tujuh kapal yang melintas dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Penurunan drastis ini menjadi sinyal terganggunya salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai urat nadi pasokan global, dengan sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati kawasan tersebut setiap harinya.
Data dari lembaga pelacakan kapal menunjukkan situasi yang semakin mengkhawatirkan. Tidak satupun dari kapal yang melintas dalam periode tersebut membawa minyak untuk pasar global.
Baca tanpa iklan