TRIBUNNEWS.COM - Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dengan Jerman semakin memanas.
Panasnya hubungan kedua negara terjadi setelah Kanselir Jerman, Friedrich Merz menyindir Presiden AS, Donald Trump.
Sindiran itu langsung ditanggapi Trump dengan menyebut dirinya kecewa terhadap Merz dan sekutu NATO lainnya yang enggan memberikan bantuan di Selat Hormuz.
Kini, kekecewaan Trump kembali diungkapkan dengan rencana penarikan pasukan dari Jerman.
Pentagon secara resmi mengumumkan perintah penarikan sekitar 5.000 personel militer AS dari pangkalan mereka di Jerman.
Langkah ini diambil hanya berselang dua hari setelah Trump melontarkan ancaman pengurangan pasukan di negara sekutu NATO tersebut.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth telah menandatangani perintah penarikan yang dijadwalkan rampung dalam rentang waktu enam hingga dua belas bulan ke depan.
Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan hasil evaluasi mendalam terhadap strategi militer AS di wilayah Eropa.
"Keputusan ini mengikuti tinjauan menyeluruh atas postur kekuatan kami di Eropa, dengan mempertimbangkan kebutuhan operasional dan kondisi terkini di lapangan," ujar Parnell dalam keterangan resminya, Jumat (1/5/2026), mengutip Reuters.
Menanggapi pengumuman tersebut, Pemerintah Jerman tampak tenang.
Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul menyatakan bahwa pihaknya sudah mengantisipasi kemungkinan pengurangan pasukan ini.
Baca juga: Trump Ancam akan ‘Memangkas’ Pasukan AS di Jerman
"Jerman sudah siap. Kami terus mendiskusikan hal ini secara intensif dengan semangat saling percaya di internal NATO," ungkap Wadephul.
Meski demikian, langkah AS ini tetap memicu kekhawatiran para analis mengenai masa depan stabilitas keamanan di Eropa, mengingat peran vital Jerman sebagai pusat komando pasukan Amerika di Benua Biru selama puluhan tahun.
Awal Mula Perselisihan
Perselisihan antara AS dengan Jerman terjadi ketika Merz melontarkan kritikan pedas terhadap kebijakan luar negeri Trump.
Merz menilai, AS saat ini tengah berada dalam posisi yang memalukan, karena terus-menerus "dipermalukan" oleh diplomasi Iran yang cerdik.
Baca tanpa iklan