News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Trump: AS Bisa Kembali Serang Iran Jika Mereka Berperilaku Buruk

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Yurika NendriNovianingsih
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PRESIDEN AS TRUMP - Foto diambil dari Facebook The White House, memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam unggahan pada 8 Januari 2026. Pada 2 Mei 2026, Trump mengancam Iran dengan serangan baru jika Teheran tidak dapat mencapai kesepakatan dengan Washington.

Ringkasan Berita:

  • Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru jika Iran bertindak "tidak tertib" dan gagal mencapai kesepakatan.
  • Dalam proposal terbarunya, Iran mengusulkan membuka Selat Hormuz dan menghentikan perang, namun menunda pembahasan program nuklir.
  • Trump menilai proposal itu belum memadai dan tetap menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
  • AS menyebut ada perpecahan dalam kepemimpinan Iran yang menghambat perundingan.

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam Iran dengan serangan baru jika Teheran "bertindak tidak tertib."

Trump mengatakan ia telah diberitahu tentang konsep kesepakatan dengan Iran, tetapi sedang menunggu rumusan pastinya.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan pada hari Sabtu bahwa proposal Iran yang sejauh ini ditolak oleh Trump akan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz dan mengakhiri blokade AS terhadap Iran sambil menunda pembicaraan tentang program nuklir Iran untuk waktu yang akan datang.

"Mereka memberi tahu saya tentang konsep kesepakatan itu. Mereka akan memberi saya kata-kata persisnya sekarang," kata Trump ketika ditanya tentang proposal Iran sebelum menaiki penerbangan ke Miami di West Palm Beach, Florida, Sabtu (2/5/2026).

Dalam postingannya di Truth Social, Trump mengatakan ia tidak dapat membayangkan proposal tersebut akan diterima dan mengatakan Iran belum membayar harga yang cukup mahal atas apa yang telah dilakukannya.

"Saya tidak ingin mengatakan itu. Maksud saya, saya tidak bisa mengatakan itu kepada seorang reporter. Jika mereka berperilaku buruk, jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, sekarang kita akan lihat. Tapi itu adalah kemungkinan yang bisa terjadi," kata Trump ketika ditanya apakah ia mungkin akan memulai kembali serangan terhadap Iran.

Trump telah berulang kali mengatakan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Pada hari Jumat, Trump mengatakan ia tidak puas dengan proposal terbaru Iran, sementara menteri luar negeri Iran mengatakan Teheran siap untuk diplomasi jika AS mengubah pendekatannya.

Reuters dan organisasi berita lainnya melaporkan selama pekan lalu bahwa Teheran mengusulkan untuk membuka kembali selat tersebut sebelum masalah nuklir diselesaikan.

Pejabat tersebut mengkonfirmasi jadwal baru ini sekarang telah diuraikan dalam proposal formal yang disampaikan kepada Amerika Serikat melalui mediator, seperti diberitakan CNBC.

Baca juga: Trump Kembali Tolak Proposal Damai Terbaru yang Ditawarkan Iran

Trump juga mengatakan pada hari Jumat bahwa "dari segi kemanusiaan," dia tidak lebih menyukai tindakan militer.

Presiden AS itu mengatakan kepada para pemimpin Kongres bahwa dia tidak memerlukan izin mereka untuk memperpanjang perang melampaui batas waktu yang ditetapkan oleh hukum untuk hari itu karena gencatan senjata telah "mengakhiri" permusuhan.

Meskipun berulang kali mengatakan ia tidak terburu-buru, Trump berada di bawah tekanan domestik untuk mematahkan cengkeraman Iran di selat tersebut, yang telah mencekik 20 persen pasokan minyak dan gas dunia dan mendorong kenaikan harga bensin AS.

Trump: Ada Perpecahan dalam Kepemimpin Iran 

Berbicara kepada wartawan tadi malam di Gedung Putih, Trump mengulangi klaimnya bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan.

Tetapi dia memperingatkan bahwa Teheran mungkin tidak akan pernah menyetujui penyelesaian melalui negosiasi untuk mengakhiri perang.

"Mereka telah menempuh perjalanan panjang, tetapi saya tidak yakin mereka akan pernah sampai ke sana," kata Trump, Sabtu.

Presiden kembali mengklaim adanya "perpecahan besar" dalam kepemimpinan Iran.

"Mereka memiliki dua atau tiga kelompok, mungkin empat, dan kepemimpinannya sangat terpecah. Mereka semua tertarik untuk mencapai kesepakatan, tetapi mereka berada dalam kekacauan," ujarnya.

Trump menjelaskan dua pilihan yang tersedia baginya.

"Ada beberapa pilihan. Apakah kita ingin membombardir mereka habis-habisan dan memusnahkan mereka? Atau apakah kita ingin mencoba membuat kesepakatan? Itulah pilihan-pilihan yang ada," katanya.

Dia menambahkan bahwa prioritasnya adalah untuk tidak mengulangi serangan tersebut.

Trump menekankan dia akan menerima pengarahan tentang opsi militer dari komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper.

Tuntutan Iran dalam Proposal Terbaru

Kantor berita Iran, Tasnim, mengungkapkan rincian proposal terbaru yang diajukan Teheran kepada AS melalui Pakistan sebagai perantara.

Proposal tersebut berisi 14 poin tuntutan Iran untuk mengakhiri perang.

Menurut laporan itu, Iran menuntut jaminan untuk mengakhiri  perang, penarikan semua pasukan militer AS dari wilayah sekitarnya, pencabutan blokade laut, pembebasan aset-asetnya yang dibekukan, pembayaran kompensasi, pencabutan sanksi, penghentian pertempuran di semua front—termasuk Lebanon—dan pembentukan mekanisme baru untuk Selat Hormuz yang dikendalikan oleh Iran.

"Tahap selanjutnya—Iran menunggu tanggapan resmi AS," tulis media pemerintah Iran.

"Amerika Serikat meminta gencatan senjata selama dua bulan dalam usulannya, tetapi Iran menekankan perlunya menyelesaikan masalah dalam waktu 30 hari, dan bahwa alih-alih memperpanjang gencatan senjata, fokusnya harus pada mengakhiri perang," menurut laporan Tasnim.

Inti dari respons Iran terletak pada ketidaksepakatan mengenai jangka waktu dan sifat gencatan senjata. 

Sementara Amerika Serikat mengusulkan gencatan senjata sementara selama dua bulan dalam dokumen aslinya, Iran menolak usulan perpanjangan sementara gencatan senjata tersebut.

Perang AS-Israel Vs Iran

Sebelumnya, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari dengan menargetkan sejumlah wilayah. Dalam serangan itu, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dan kemudian posisinya digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, setelah mendapat persetujuan Majelis Ahli.

Serangan tersebut terjadi dua hari setelah perundingan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa yang belum mencapai kesepakatan. Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, sedangkan Iran menegaskan bahwa programnya hanya untuk tujuan damai.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di beberapa negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Selain itu, Iran menghentikan perundingan nuklir dan memblokade Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi dunia, yang menyebabkan lonjakan harga minyak dan memicu kekhawatiran krisis energi global.

Memasuki hari ke-40 konflik, AS dan Iran akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan mulai 8 April, yang kemudian diperpanjang tanpa batas oleh Presiden AS Donald Trump. Namun, perundingan lanjutan pada 11 April di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan karena masih adanya persoalan penting yang belum terselesaikan.

Setelah kegagalan tersebut, AS melakukan blokade terhadap jalur pelayaran Iran di Selat Hormuz. Pada 25 April, AS sempat berencana mengirim delegasi ke Islamabad untuk membuka kembali peluang negosiasi, tetapi Iran menolak dialog langsung, sehingga rencana kunjungan tersebut akhirnya dibatalkan.

Pihak Iran terus berkomunikasi dengan mediator, Pakistan, untuk menyampaikan posisinya dan tuntutan terhadap AS sebagai syarat mengakhiri perang.

Pada hari Jumat (1/5/2026), Iran menyampaikan proposal baru kepada AS melalui Pakistan, dan Presiden AS mengindikasikan bahwa AS mungkin akan menolak tuntutan Iran dalam proposal tersebut.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini