TRIBUNNEWS.COM - Perang Iran memasuki hari ke-64, Sabtu (2/5/2026), dengan ketegangan yang terus meningkat di berbagai kawasan, mulai dari Amerika Serikat, Iran, hingga Timur Tengah lainnya.
Upaya damai kembali menemui jalan buntu setelah proposal terbaru Teheran ditolak Washington.
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan tidak puas terhadap usulan perdamaian Iran.
Ia menegaskan bahwa sejumlah tuntutan yang diajukan tidak dapat diterima.
“Mereka meminta hal-hal yang tidak bisa saya setujui,” ujar Trump, sambil memperingatkan bahwa penghentian konflik terlalu cepat bisa memicu eskalasi baru di masa depan.
Selain itu, Amerika Serikat juga mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap kapal-kapal yang membayar biaya kepada Iran untuk melintasi Selat Hormuz, sehingga memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Di Amerika Serikat
Al Jazeera melaporkan hasil survei Washington Post-ABC News-Ipsos yang menunjukkan 61 persen warga Amerika menilai penggunaan kekuatan militer terhadap Iran adalah sebuah kesalahan.
Temuan ini mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap keterlibatan militer AS dalam konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Meski demikian, pemerintahan Presiden Donald Trump tetap melanjutkan kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran.
Washington memperluas sanksi terhadap sejumlah entitas yang dituding terlibat dalam ekspor minyak Iran, termasuk perusahaan berbasis China yang diduga membantu penjualan minyak mentah Teheran senilai miliaran dolar.
Departemen Keuangan AS juga menjatuhkan sanksi tambahan terhadap perusahaan penukaran valuta asing Iran untuk membatasi akses Teheran terhadap pendapatan luar negeri.
Selain itu, Washington memperingatkan bahwa kapal yang membayar biaya kepada Iran untuk melintasi Selat Hormuz berpotensi dikenai sanksi, langkah yang dinilai memperketat kontrol AS atas jalur energi global.
Baca juga: Negosiasi Buntu, Trump Tolak Mentah-mentah Tawaran Damai Terbaru dari Iran!
Di Iran
Di sisi lain, media lokal Iran melaporkan sedikitnya 14 tentara tewas dalam operasi penjinakan bahan peledak di Provinsi Zanjan, wilayah barat laut negara tersebut.
Insiden ini terjadi di tengah situasi keamanan yang masih tegang akibat konflik berkepanjangan.
Baca tanpa iklan