TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan baru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz kembali mengguncang pasar energi dunia.
Harga minyak mentah melonjak tajam setelah kedua negara saling melancarkan serangan di jalur laut paling penting bagi perdagangan energi global tersebut.
Al Jazeera melaporkan harga minyak mentah Brent sempat naik hingga 7,5 persen dalam perdagangan Kamis sebelum akhirnya sedikit mereda saat pasar Asia dibuka pada Jumat pagi.
Harga Brent tercatat berada di level 101,12 dolar AS per barel setelah sebelumnya menyentuh puncak harian di angka 103,70 dolar AS .
Sementara itu, CNBC melaporkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga ikut naik menjadi sekitar 95,64 dolar AS per barel.
Lonjakan harga terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran bisa runtuh sewaktu-waktu.
Bentrokan Baru Pecah di Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menjadi penghubung utama pengiriman minyak dan gas dunia.
Lebih dari seperlima pasokan minyak serta gas alam global biasanya melewati kawasan tersebut setiap hari.
Baca juga: Sistem Pertahanan Udara UEA Respons Ancaman Rudal, AS dan Iran Sempat Baku Tembak di Selat Hormuz
Menurut laporan Al Jazeera, bentrokan terbaru pecah setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menuduh Iran menyerang tiga kapal perusak rudal berpemandu milik Angkatan Laut AS menggunakan rudal, drone, dan kapal kecil.
Militer AS kemudian melancarkan serangan balasan yang mereka sebut sebagai tindakan pertahanan diri.
Di sisi lain, Iran justru menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran menyebut pasukan AS menyerang kapal tanker minyak Iran serta beberapa kapal lain di sekitar Selat Hormuz.
Iran juga menuduh AS menargetkan wilayah sipil, termasuk kawasan Pulau Qeshm.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencoba meredam kekhawatiran pasar dengan mengatakan bahwa gencatan senjata masih tetap berlaku.
Namun, pernyataannya justru disertai ancaman baru terhadap Teheran.
Baca tanpa iklan