News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Wabah Hantavirus

Hantavirus Menyebar, Ini Daftar Negara ASEAN yang Laporkan Dugaan Infeksi, Indonesia Ikut Tercatat

Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Febri Prasetyo
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • Kasus hantavirus kembali jadi sorotan dunia setelah wabah di kapal pesiar MV Hondius menewaskan tiga penumpang.
  • Indonesia tercatat melaporkan 23 kasus hantavirus sejak 2024 hingga awal 2026 dengan tiga kematian, sementara Singapura mengisolasi dua warganya yang sempat berada di kapal pesiar meski hasil tes dinyatakan negatif.
  • Di luar ASEAN, Korea Selatan dan China menjadi negara dengan laporan hantavirus tertinggi di Asia, dengan ratusan hingga ribuan kasus HFRS.

TRIBUNNEWS.COM - Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah kemunculan wabah di kapal pesiar mewah MV Hondius beberapa waktu lalu.

Kapal yang membawa ratusan penumpang dan kru dari berbagai negara itu berlayar dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026. Namun dalam perjalanan tersebut, tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia akibat terpapar hantavirus.

Peristiwa ini memicu kekhawatiran global, terutama setelah para penumpang dari 12 negara turun di St. Helena, wilayah Atlantik Selatan yang berada di antara benua Afrika dan Amerika Selatan.

Kekhawatiran masyarakat internasional bahkan mendapat perhatian langsung dari Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Dalam surat terbuka kepada warga Tenerife, Spanyol, pada 9 Mei 2026, Tedros mengakui kekhawatiran masyarakat terhadap potensi penyebaran wabah tersebut.

“Saya tahu Anda khawatir. Saya tahu ketika Anda mendengar kata ‘wabah’ dan menyaksikan sebuah kapal berlayar menuju pantai Anda, ingatan-ingatan yang belum sepenuhnya kita lupakan akan muncul kembali,” tulis Tedros.

Dikutip laman resmi WHO, Hantavirus adalah penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus. Virus ini menyebar lewat urine, air liur, atau kotoran tikus yang terhirup manusia.

Secara umum, hantavirus terbagi menjadi dua jenis, yakni HFRS yang menyerang ginjal dengan tingkat kematian sekitar 15 persen, serta HPS yang menyerang paru-paru dan lebih mematikan dengan angka kematian mencapai 60 hingga 80 persen.

Meski berbahaya, para ahli menilai hantavirus kecil kemungkinan berkembang menjadi pandemi global seperti Covid-19 karena penyebarannya tidak secepat influenza atau virus corona SARS.

Negara Asia Tenggara yang Sudah Mendeteksi

Setidaknya sudah ada sejumlah negara di Asia Tenggara yang mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus, baik melalui pemantauan kasus, penelitian, maupun karantina penumpang yang diduga terpapar.

Indonesia

Baca juga: Puan Khawatir Hantavirus Meluas Seperti COVID-19, Minta Pemerintah Antisipasi

Indonesia menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang telah melaporkan kasus hantavirus dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Kesehatan RI dalam laman resminya mencatat sebanyak 23 kasus konfirmasi virus Hanta ditemukan sepanjang periode 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026.

Dari total kasus tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Angka itu membuat tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) hantavirus di Indonesia mencapai sekitar 13 persen.

Adapun kasus positif hantavirus tersebar di sembilan provinsi, meliputi DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Banten.

Dari seluruh wilayah tersebut, DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, masing-masing mencatat enam kasus positif.

Selain kasus terkonfirmasi, Kemenkes juga memantau total 251 kasus suspek hantavirus di berbagai daerah. Hasil investigasi menunjukkan sebanyak 23 kasus dinyatakan positif, 221 negatif, empat kasus masih dalam proses pemeriksaan laboratorium, dan tiga lainnya tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen.

Singapura

Sama seperti Indonesia, Singapura mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus setelah dua warganya diketahui berada di kapal pesiar MV Hondius yang menjadi sorotan akibat dugaan penyebaran virus tersebut.

Dua warga Singapura berusia 67 dan 65 tahun itu sempat melakukan perjalanan bersama penumpang lain di kapal pesiar MV Hondius. Keduanya juga diketahui berada dalam penerbangan yang sama menuju Johannesburg dengan salah satu pasien yang telah dikonfirmasi terinfeksi hantavirus pada 25 April 2026.

Menyusul informasi tersebut, laporan Straits Times menyebut Badan Penyakit Menular Singapura atau Communicable Diseases Agency (CDA) segera melakukan langkah pencegahan dengan mengisolasi dan memeriksa kondisi kesehatan keduanya.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kedua warga tersebut negatif hantavirus. Meski demikian, otoritas kesehatan Singapura tetap menempatkan mereka dalam pengawasan medis selama 45 hari, sesuai masa inkubasi maksimum virus.

Korea Selatan

Lebih lanjut, Korea Selatan belakangan menjadi negara dengan laporan kasus hantavirus terbanyak di Asia. Negara tersebut telah lama menghadapi penyebaran virus yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus, tercatat setidaknya ada 373 kasus Hantaan virus sepanjang 2024.

Sebagian besar kasus ditemukan di wilayah pertanian yang memiliki populasi tikus cukup tinggi. Jenis virus ini menyerang ginjal dan menyebabkan penyakit Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau demam berdarah dengan sindrom ginjal.

Meski tergolong serius, tingkat kematian hantavirus di Korea Selatan dilaporkan berada di bawah lima persen.

Pemerintah setempat secara rutin melakukan pemantauan kesehatan, terutama di daerah pedesaan dan area pertanian yang berisiko tinggi terjadi paparan virus.

Korea Selatan juga memiliki sejarah penting dalam penelitian hantavirus dunia. Ahli virologi asal Korea, Lee Ho Wang, berhasil mengidentifikasi virus Hantan setelah melakukan penelitian panjang terhadap hewan pengerat di sekitar perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara.

Penemuan tersebut kemudian menjadi tonggak penting dalam dunia medis karena Lee Ho Wang berhasil mengembangkan vaksin hantavirus pertama di dunia yang dikenal dengan nama Hantavax.

China

Sementara itu, China masih menjadi salah satu negara di Asia dengan laporan kasus hantavirus tertinggi setiap tahun.

Otoritas kesehatan setempat mencatat ribuan kasus Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau demam berdarah dengan sindrom ginjal masih ditemukan, meski tren penyebarannya disebut terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Penyakit tersebut menjadi salah satu infeksi zoonosis yang mendapat pengawasan ketat dari pemerintah China karena berkaitan erat dengan populasi tikus di kawasan permukiman maupun area pertanian.

HFRS diketahui merupakan jenis hantavirus yang menyerang ginjal dan banyak ditemukan di wilayah Asia.

Meski demikian, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China atau China CDC menegaskan hingga saat ini belum ditemukan kasus infeksi manusia di negara tersebut yang berkaitan dengan jenis virus dalam wabah terbaru di kapal pesiar MV Hondius.

Dalam pernyataannya, otoritas kesehatan China menyebut belum ada laporan infeksi alami dari strain virus Andes yang diduga terkait dengan kematian sejumlah penumpang kapal pesiar tersebut.

Walau dinilai tidak memiliki ancaman sebesar Covid-19, pemerintah China tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengimbau masyarakat menerapkan langkah pencegahan.

China meminta warga mengurangi kontak langsung dengan tikus, menjaga kebersihan lingkungan, serta menyimpan makanan dan air dengan baik untuk mencegah penyebaran virus.

(Tribunnews.com / Namira)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini