Ringkasan Berita:
- Kepolisian Tokyo menangkap mantan presiden MTU, Takuya Hara, atas dugaan penipuan investasi senilai 1,63 miliar yen
- Ia diduga memalsukan data penjualan dan kinerja perusahaan untuk meyakinkan investor J-STAR melakukan akuisisi
- Kasus ini menyoroti risiko besar investasi di sektor startup Jepang yang minim verifikasi data.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Kepolisian Metropolitan Tokyo menangkap mantan presiden perusahaan venture medis Jepang MTU, Takuya Hara, atas dugaan penipuan terhadap perusahaan investasi Jepang senilai sekitar 1,63 miliar yen atau lebih dari Rp170 miliar.
"Hara diduga menyampaikan data penjualan dan kinerja bisnis palsu kepada perusahaan investasi J-STAR sekitar Februari 2025," ungkap sumber Tribunnews.com di kepolisian Rabu (13/5/2026).
Akibat informasi palsu tersebut, dana investasi di bawah J-STAR disebut mentransfer sekitar 1,63 miliar yen sebagai dana akuisisi perusahaan.
Perusahaan MTU diketahui bergerak di bidang layanan cloud keamanan untuk rumah sakit dan institusi medis.
Baca juga: Cloud Makin Jadi Sasaran Serangan Siber, Perlindungan Data Perusahaan Kini Jadi Prioritas
Namun menurut hasil penyelidikan, layanan tersebut sebenarnya belum menghasilkan penjualan sama sekali atau nol yen.
Meski demikian, Hara diduga mengklaim kepada investor bahwa penjualan perusahaan mencapai sekitar 800 juta yen, serta layanan sudah digunakan oleh 50 institusi medis.
Informasi tersebut diyakini membuat pihak investor menilai MTU sebagai perusahaan startup yang layak diakuisisi.
Gunakan Tayangan TV untuk Meyakinkan Investor
Penyidik juga mengungkap bahwa Hara memperlihatkan video program televisi yang menampilkan dirinya guna meningkatkan kredibilitas perusahaan di mata investor.
Dengan berbagai penjelasan tersebut, pihak J-STAR akhirnya memutuskan mengakuisisi MTU dan mentransfer dana sekitar 1,63 miliar yen kepada Hara.
Kepolisian menduga uang hasil penipuan tersebut digunakan untuk membayar berbagai utang pribadi maupun perusahaan.
Saat ini polisi masih terus menyelidiki keseluruhan aliran dana dan kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam kasus tersebut.
Kasus ini kembali menyoroti risiko investasi di sektor startup dan venture business di Jepang, terutama terkait verifikasi data penjualan serta validitas pertumbuhan perusahaan teknologi dan medis.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
Baca tanpa iklan