Sejak meninggalkan Iran, ia telah bekerja sama dengan musisi Iran pengasingan lainnya, Mohsen Namjoo.
4. Iran Kirim Pesan Keras ke AS Lewat Forum BRICS: Siap Berperang, Tapi Tetap Utamakan Diplomasi
Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi menyerukan negara-negara BRICS untuk secara tegas mengecam dugaan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pidatonya pada Pertemuan Menteri Luar Negeri BRICS di India, Kamis (14/5/2026), Araghchi menyebut Iran menjadi korban “agresi brutal dan ilegal” dari Washington dan Tel Aviv.
Ia mengatakan Iran menghadapi apa yang disebutnya sebagai ekspansionisme dan politik perang Barat, sekaligus meminta negara-negara BRICS membantu menghancurkan “rasa superioritas palsu Barat”.
“Iran tidak dapat dipatahkan dan justru menjadi lebih kuat serta lebih bersatu ketika berada di bawah tekanan,” ujar Araghchi.
Kirim Pesan ke AS: Iran Siap Bertempur
Dalam pernyataannya, Araghchi juga mengirim pesan langsung kepada Amerika Serikat dengan menegaskan bahwa Iran siap menghadapi konflik jika diperlukan.
Namun di saat yang sama, Teheran tetap membuka ruang diplomasi.
“Iran siap bertempur, tetapi juga siap mengejar dan mempertahankan diplomasi,” katanya.
Menurut Araghchi, konfrontasi Iran dengan Barat bukan sekadar konflik regional, melainkan bagian dari perjuangan lebih besar melawan “hegemoni Barat”.
Ia menyebut perjuangan Iran berkaitan langsung dengan kepentingan negara-negara BRICS dan negara berkembang di kawasan Global South.
BRICS Disebut Simbol Tatanan Dunia Baru
Dalam forum tersebut, Araghchi menggambarkan BRICS sebagai simbol munculnya tatanan dunia baru yang dipimpin negara-negara Selatan Global.
Ia mengatakan dunia saat ini tengah bergerak menuju sistem multipolar yang lebih adil, meski masih rapuh.
“Yang dulu hanya menjadi idealisme ambisius kini telah menjadi kenyataan. Namun kenyataan itu masih rapuh,” ujarnya.
Menurut Araghchi, kekuatan-kekuatan lama yang disebutnya sebagai “imperialis” kini berusaha mempertahankan dominasi global melalui tekanan dan agresi.
5. Perang Belum Berakhir, Israel Rencanakan Serangan Baru ke Iran
Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, mengisyaratkan kemungkinan operasi militer baru terhadap Iran dalam waktu dekat.
Dalam pidatonya pada upacara pergantian komandan Angkatan Udara Israel, Katz mengatakan bahwa Iran telah mengalami “pukulan sangat berat” selama setahun terakhir yang membuat negara itu mundur bertahun-tahun di berbagai bidang.
"Iran telah menderita pukulan yang sangat berat dalam setahun terakhir, pukulan yang telah membuatnya mundur bertahun-tahun di semua bidang," katanya, Kamis (14/5/2026).
Namun, ia menegaskan bahwa “misi Israel belum berakhir” dan negaranya siap kembali bertindak jika diperlukan untuk memastikan Iran tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel maupun kawasan.
Yisrael Katz juga menyebut bahwa Israel, bersama Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, terus berkoordinasi untuk menyelesaikan tujuan operasi terhadap Iran.
"Presiden AS Trump, berkoordinasi dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, memimpin upaya untuk menyelesaikan tujuan kampanye dengan cara yang akan memastikan bahwa Iran tidak lagi menjadi ancaman bagi keberadaan Israel dan AS serta dunia bebas untuk generasi mendatang," kata Yisrael Katz.
"Kami mendukung upaya tersebut dan memberikan dukungan yang diperlukan, tetapi kami mungkin akan segera diminta untuk bertindak lagi guna memastikan terwujudnya tujuan tersebut," ujarnya.
Beberapa hari lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan perang dengan Iran “belum berakhir,” karena AS dan Israel masih berupaya mengakhiri ambisi nuklir Teheran.
“Masih ada material nuklir, uranium yang diperkaya yang harus dikeluarkan dari Iran,” katanya dalam wawancara untuk acara “60 Minutes” di CBS yang ditayangkan Minggu (10/5/2026) malam.
“Masih ada lokasi pengayaan yang harus dibongkar, masih ada kelompok proksi yang didukung Iran, masih ada rudal balistik yang ingin mereka produksi... masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," katanya.
Ketika didesak tentang bagaimana AS dan Israel akan menyingkirkan material nuklir tersebut, Netanyahu menjawab, “Kalian masuk, dan kalian mengambilnya keluar.”
(Tribunnews.com)
Baca tanpa iklan